Kebudayaan menjadi salah satu unsur yang selalu diangkat oleh Garin Nugroho dalam setiap filmnya. Unsur itu pun kembali melekat pada film terbarunya yang berjudul “Kucumbu Tubuh Indahku.”

Peluncuran film yang sudah dinanti banyak pecinta film di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada hari Senin (3/12) diawali dengan atraksi tari Lengger. Para penari berhasil  menghidupkan suasana sebelum ratusan penonton akhirnya bisa menikmati film yang dibintangi oleh Muhammad Khan dan Rianto tersebut.

Terinspirasi dari kisah hidup Rianto Manali, seorang penari dan koreografi asal Banyumas yang saat ini sudah menguasai berbagai tarian, “Kucumbu Tubuh Indahku” berkisah tentang Juno (Khan) yang memiliki orientasi seksual yang berbeda. Cerita  dimulai dengan Juno kecil yang sudah tampak bakatnya untuk menjadi seorang penari sejak dini. Bertemu karena suatu insiden kecil yang dilihat Sang Guru Lengger (Sujiwo Tejo), akhirnya lengger pun menjadi kegiatan meluangkan waktunya di masa kecil. Lenggoknya telah terbentuk secara halus dan lembut.

Wajah Juno yang tampak polos dan serba ingin tahu cukup bertolak belakang dengan kenyataan bahwa ia sesungguhnya adalah seorang anak yang penuh dengan pergolakan. Laku hidup seorang Juno seperti dilempar kesana kemari, mondar–mandir kesana–sini, mengikuti arus yang tidak menentu. Suatu saat, ia mengikuti bibinya (Endah Laras) untuk menjual ayam. Juno memiliki bakat alami untuk mengecek kondisi kesuburan ayam yang menjadikan ia dikenal oleh seluruh desa. Namun bibinya melarang Juno untuk menyalurkan bakat alaminya dan Juno kecil justru ditusuk ujung harinya dengan jarum sebagai bentuk hukuman.

Meski tidak eksplisit ditampilkan, rasa gelisah, ketakutan dan penasaran jelas terus menerus dialami oleh Juno kecil. Tari tradisi menjadi pelarian dan pelampiasan Juno yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Gejolak ini kelak akan membangun kepribadiannya saat dewasa. 

Memasuki jenjang ia remaja hingga dewasa, penonton semakin melihat betapa kompleks perjalanan hidup Juno. Dari mulai ikut menjadi tukang jahit, desir orientasi seksualnya dengan seorang petinju, suka dukanya berkelana bersama grup tari Lengger, keikutsertaan dalam sebuah drama politik hingga membentuk ikatan sebagai gemblak dengan seorang warok. Semua karakter pendukung di sekeliling Juno tidak hanya lewat begitu saja. Mereka seakan mengisi beberapa bagian relung kehidupan Juno sesuai porsinya. Semua pilihan seakan dipenuhi dengan masalah, setiap jalan yang Juno lalui tidak salah namun juga sulit untuk ia benarkan. Satu–satunya yang ia cintai, yang bisa ia cumbu ialah keindahan tubuhnya, melalui tari.

 “Dua tahun saya mempersiapkan film ini, riset tentang maskulin dan feminin kemana–mana dengan Rianto. Mulai dari Lengger terus nanti hingga tari bissu di Sulawesi. Mungkin selain film ini kelak akan ada film saya yang terinspirasi melalu riset kami mengenai hijrahnya tubuh–tubuh manusia ini.” jelas Garin Nugroho menceritakan filmnya.

Warok yang dengan perlahan dan teatrikal menembus rimbunnya ladang jagung hanyalah satu dari banyak adegan apik yang ada pada film ini. Monolog Rianto secara teatrikal mengisi setiap awal plot cerita seakan mengiyakan bahwa cerita–cerita itu sungguh ia alami. Lingkungan pedesaan yang asri dengan warnanya begitu indah untuk dipandang. Alunan musik juga oleh Mondo Gascaro mengisi emosi dari setiap pengambilan gambar yang ada. Kemarahan, kesedihan, ketakutan, dan kesepian mengalun dalam telinga penonton. Memori adalah alasan Garin memilih paduan musik filmnya dilakukan oleh Mondo Gascaro.

“Lagu–lagunya itu lho bisa menimbulkan memori akan suatu kejadian. Ada yang ceria tapi klasik, tegang namun indah. Jiwanya itu ada, saya rasa Mondo memiliki selera musik yang pantas sekali untuk mengisi kehidupan Juno dalam membangun kisahnya.” Jelasnya.

“Dari teater saya sudah dilatih untuk berperan sebagai apa saja. Lagipula saya begitu dimanjakan disini, semua crew luar biasa. Saya diberi script sekitar sebulan sebelum produksi dilakukan. Mas Rianto dengan sabar melatih saya lengger hingga memaksimalkan karakter saya sampai seperti ini,” ungkap Muhammad Khan mengenai perannya sebagai Juno dewasa.

Begitu dalamnya entitas tubuh yang ditampilkan pada film ini, dari lemah lembutnya seorang Juno, karisma guru lengger Juno, perkasanya si petinju, hingga warok yang selalu berdarah–darah. Ini adalah cara Garin membuka luka–luka tubuh manusia dan dengan jeli ia rangkum dalam “Kucumbu Tubuh Indahku.”

Bagi Garin, film ini adalah pernyataan dia mengenai betapa pentingnya politik tubuh dan mengenal rasa trauma bangsa.

“Saat ini trauma tubuh dimana–mana, kekhawatiran, kekerasan dimana–mana. Setiap orang itu memiliki tubuh traumatiknya masing–masing, sejak lahir bahkan. Kehidupan sosial dan kondisi politik saat ini bahkan juga berdarah–darah. Rasa cinta akan tubuh yang traumatik inilah yang ditampilkan dan coba untuk terus didalami kembali.”

 

 

Titus Kurdho