Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 menetapkan sutradara Garin Nugroho sebagai subjek program retrospeksi Focus on Garin Nugroho. Kuliah umum yang diselenggarakan di Pendopo Ajiyasa di hari Senin (3/12) bertujuan untuk membuka diskusi tentang memproduksi masterpiece dari seorang sutradara sukses seperti Garin.

Garin hadir menjadi pembicara utama dengan mengenakan kaos putih dan celana coklat. Ia ditemani oleh dua pembicara lain, yaitu Rina Damayanti selaku CEO PadiPadi Creative dan Paolo Bertolin, seorang perancang program festival dan penulis film. Dimoderatori oleh Ekky Imanjaya, seorang dosen Departemen Film Universitas Bina Nusantara, acara pun resmi dimulai pada pukul 10:00 dan berakhir pada pukul 12:00.

Garin merantau ke Jakarta untuk belajar film di Fakultas Sinematografi, Institut Kesenian Jakarta (selesai pada tahun 1985) setelah selesai menempuh pendidikan sekolah menengah di Semarang. Pria kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961 ini merasa tidak cukup hanya belajar film. Garin juga mengikuti pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (selesai tahun 1991). Garin memulai karier sebagai sutradara lewat produksi film dokumenter.

Namanya mulai dikenal setelah produksi film panjang pertamanya, “Cinta dalam Sepotong Roti” (1990). Film tersebut langsung mendapat penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 1991. Film keduanya, “Surat untuk Bidadari” (1992), membawa Garin ke dunia panggung film internasional. Sejak itu, namanya melejit dan merambah ke berbagai festival film internasional. Pada Perayaan 250 tahun Mozart (2006), Garin terpilih menjadi salah satu dari enam innovative directors sedunia untuk membuat film, yang kemudian melahirkan “Opera Jawa.” Di akhir tahun 2006, Garin ikut mendirikan Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Dengan tahun ke-12 JAFF pada 2017 menjadi tahun terakhirnya menjabat sebagai presiden JAFF.

 “Mengingat adanya anasir ekperimentasi dan spirit avant-garde, sejumlah kritikus mengeluhkan film-film Garin terlampau simbolik dan puitik serta narasinya sulit dimengerti oleh kebanyakan penonton Indonesia. Kritikus yang sinis mendakwa film Garin hanya memuaskan para juri di kancah festival internasional  namun mengabaikan penontonnya di tanah air. Akan tetapi, kritikus yang bernada positif menyatakan film Garin senantiasa mendahului masanya. Kenyataannya, film Garin senantiasa senafas dengan perkembangan global dan lokal serta seturut dengan perkembangan teknologi film. Tak aneh jika kritikus terkemuka Tony Rayn menyebut Garin sebagai ‘Sineas Abad ke-21.’ Barangkali film pendek Garin bertajuk Gerbong 1, 2, 3 (1989) telah menujumkan perjalanan artistik maupun kulturalnya yang  tak pernah mengenal kata henti,” tulis Budi Irawanto selaku presiden festival JAFF dalam pengantar program Focus On Garin tahun ini di website JAFF.

Rina Damayanti telah bekerja bersama Garin selama lebih dari lima belas tahun sejak 2001. Sejak tahun 2001 pula, Rina bergabung dengan SET Film sebagai Produser dan menangani produksi film feature bersama sutradara Garin Nugroho, antara lain: “Opera Jawa” (2006), “Under The Tree” (2008), “Generasi Biru” (2009), “The Mirror Never Lies” (2011), “Mata Tertutup” (2012), “Setan Jawa” (2016) dan juga menangani berbagai pementasan seni pertunjukan antara lain: “Tusuk Konde” (2010) dan “Selendang Merah” (2013). Sejak awal bekerja dengan Garin Nugroho, Rina mengaku selalu menemukan pengalaman-pengalaman baru, mengingat karya-karya Garin yang selalu menawarkan bentuk-bentuk, eksperimen-eksperimen, dan ide-ide baru.

“(Hal-hal) itu juga yang membuat saya selalu excited untuk terus belajar dengan Mas Garin. Merupakan suatu tantangan juga untuk bisa mewujudkan gagasan-gagasan yang menurut saya itu luar biasa banget,” ucap Rina.

Rina bercerita bahwa ia tidak melihat Garin semata-mata hanya sebagai seorang sutradara, Garin Nugroho juga mempunyai kemampuan berpikir layaknya seorang produser. Saat memiliki ide tentang sebuah film, Garin dapat membayangkan bagaimana produksi film tersebut akan berjalan. Proses produksi film yang diawali oleh gagasan baru ala Garin yang agak ‘nyeleneh’ itu diceritakan oleh Rina melalui cerita produksi Setan Jawa dan Opera Jawa.

Perfilman internasional melihat Garin sebagai seseorang yang selalu menawarkan lompatan-lompatan baru. Hal ini kemudian menjadi potensi bagi produser-produser luar negeri untuk berpartisipasi dalam proyek Garin yang biasa menawarkan gagasan-gagasan baru tersebut. Saat ide awal “Setan Jawa” muncul, yaitu sebuah film bisu dengan pertunjukkan seperti gamelan, dibandingkan dengan Indonesia yang akan sulit mencerna gagasan Garin, Melbourne justru melihat gagasan “Setan Jawa” tersebut adalah sesuatu yang cemerlang. Melbourne pada awalnya juga tidak dapat dengan jelas membayangkan apa sebenarnya yang Garin ingin lakukan dalam film tersebut. Tetapi, tidak hanya berpegang pada gagasan yang ditawarkan Garin, Melbourne juga melihat perjalanan Garin yang pernah melahirkan “Opera Jawa.”

“’Opera Jawa’ menawarkan sesuatu di situ. Menurut saya, Mas Garin pertama kali membuat eksperimentasi baru dengan menggabungkan unsur-unsur yang tidak umum dalam perfilman, ketika dia mengajak koreografer dan bertutur menggunakan koreografi,” tutur Rina.

Tidak berhenti sampai di situ, ide ‘nyeleneh’ lain yang dicetuskan Garin dalam “Opera Jawa” adalah digunakannya instalasi seni. Saat film-film pada umumnya menggunakan art director, Garin justru langsung sekaligus memanggil tujuh orang untuk berkolaborasi membuat instalasi seni. Hal ini kemudian juga membuka ruang-ruang berkarya baru bagi bentuk-bentuk seni lain.

“Ada dialog yang berbeda antara dialog Mas Garin dengan art director, dan dialog Mas Garin sebagai sutradara dengan art instalasi, gitu. Sangat berbeda,” ucap Rina.

Dialog berbeda juga terjadi dalam kolaborasi Garin dengan komposer musik gamelan, di mana yang biasa digunakan dalam perfilman justru adalah illustrator musik. Terobosan baru Garin ini juga membuka kesempatan bagi elemen perfilman lain untuk berproses dengan cara yang berbeda. Seperti editor suara yang berproses dengan cara lain saat mengedit film bisu “Setan Jawa” karya Garin ini.

“Setan Jawa” pun sukses di Melbourne sehingga makin banyak orang yang ingin berperan dalam temuan-temuan baru Garin.

“Ini gila, nih. Ini film dengan gamelan, dengan orchestra. Kemudian saya (pihak internasional) juga ingin bawa ini ke Eropa, dari Belanda orang juga kemudian ingin bawa ke London, dan lain-lain. Karena ini adalah sesuatu yang luar biasa, orang harus melihat,” tutur Rina.

Tetapi hal-hal itu memang menjadi lebih mudah saat ide tersebut sudah tersampaikan dalam bentuk konkrit. Menurut Rina, yang menjadikan hal ini sulit adalah saat membuat sebuah ide abstrak tersebut menjadi bentuk konkritnya.

Dalam proses menjadikan sebuah ide tersebut menjadi bentuk nyata, terobosan lain yang dilakukan Garin dalam memproduksi film Setan Jawa adalah digunakannya dana awal sebesar lima puluh juta untuk membuka workshop tarian untuk mengeksplorasi gerakan-gerakan tarian Setan Jawa. Dibanding membuat sample film, Garin justru memilih untuk membuat para penari bertanya-tanya film seperti apakah yang sedang mereka kerjakan.

 “Semua (keberhasilan) itu bener-bener berangkat dari kepercayaan pada gagasan ini pasti akan menjadi sesuatu. Nah, trust itu yang menumbuhkan elemen-elemen dalam film itu menjadi bentuknya,” kata Rina.

Paolo Bertolin, sebagai salah satu pembicara, adalah seorang perancang program festival, penulis naskah film, dan produser yang membagi waktunya antara Asia dan Eropa. Selama sepuluh tahun terakhir, awalnya ia menjadi anggota panitia seleksi, kemudian menjadi konsultan regional untuk Venice Film Festival, pekerjaannya meliputi wilayah yang beragam, seperti anak benua India, Oceania, Turki, Korea Selatan, hingga Asia Tenggara.

Dalam pandangannya mengenai Garin, Paolo berkata bahwa Garin adalah seorang sutradara yang karya-karyanya tidak mendapat perhatian sepadan dengan kualitas luar biasa dari karya-karya yang ia lahirkan tersebut, baik perhatian dari luar negeri maupun dari Indonesia sendiri. Dengan adanya program Focus on Garin Nugroho, Paolo merasa agak terkejut bahwa banyak dari film-film Garin akan diputar sekaligus dalam program yang diusung oleh JAFF ini di Indonesia. Paolo juga bercerita bahwa beberapa film pertama Garin yang ia tonton, tidak berada dalam pelestarian yang baik sehingga menjadi cukup sulit untuk menampilkan film-film tersebut dengan kondisi sempurna.

“Saya pikir hal ini menjadi penting agar orang-orang menyadari pentingnya karya-karya Garin, untuk merawat dan membuat karya-karyanya dapat diakses dengan melestarikan karya-karya tersebut dalam salinan yang dapat diputar dan diakses di Indonesaia maupun di luar negeri dan menjangkau sebesar mungkin penonton,” ucap Paolo.

“Dan dengan ‘menonton karya Garin’ yang saya maksud adalah penonton Indonesia dapat mengapresiasi apa yang telah Garin lakukan selama tiga sampai empat dekade terakhir dalam menggambarkan kompleksitas, kekayaan, keberagaman, dan kontradiksi identitas dari Indonesia melalui bahasa film dan cerita yang merefleksikan gagasan akan keberagaman dan kompleksitas baik dari sisi politik, kesenian, maupun kebudayaan,” lanjut Paolo.

Paolo juga merasa akan sangat disayangkan jika masyarakat publik Indonesia tidak dapat mengakses karya-karya cemerlang Garin. Paolo berharap ke depannya akan semakin banyak anak muda yang dapat menjangkau karya-karya Garin tersebut.

“Saya harap Garin akan tetap membuat film-film yang menakjubkan seperti yang sudah ia lakukan sejak pertengahan tahun 80-an.” tutup Paolo.

 

 

Winona Argavany