Sempat dirilis di bioskop tahun lalu, biopic tentang Wage Rudolf Soepratman karya John de Rantau dihadirkan kembali di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada hari Senin (3/12) di Empire XXI. 

Film yang menandakan berakhirnya masa non produktif John de Rantau sebagai sineas selama tujuh tahun terakhir ini mengangkat kisah hidup sang pencipta lagu kebangsaan Republik Indonesia. Berkolaborasi dengan Andy Shafiq sebagai produser, film ini menjadi nominasi dalam program JAFF Indonesian Screen Awards bersama dengan “Love for Sale,” “Keluarga Cemara” dan beberapa film Indonesia lainnya.

Di film ini, “Wage” tidak digambarkan sebagai pahlawan tanpa cela. Justru, karakter Wage  yang diperankan oleh Rendra Bagus Pamungkas hadir secara apa adanya. Wage adalah seorang manusia yang memiliki kelebihan dan juga kekurangan.

Lagu “Lir Ilir” membuka film ini disertai dengan Wage kecil yang duduk di atas pohon ditengah murid-murid yang sedang menyanyikan lagu Hindia-Belanda, sehingga ia harus mendapatkan hukuman oleh bapaknya berupa hukuman cambuk. Masa kecil Wage penuh dengan lagu-lagu Jawa yang sering dinyanyikan oleh ibunya. Ini seolah memberi alasan mengapa ia tumbuh menjadi seorang musisi.  

Sosok Wage menjadi penting untuk diangkat karena minimnya informasi seputar pahlawan yang membuat lagu kebangsaan Indonesia ini, padahal karyanya sering dinyanyikan dalam perayaan besar di Indonesia. 

“Menurut kami, Wage adalah sosok yang tidak tergambarkan. Sehingga itu tantangan kami untuk riset dan menggali lagi sosok Wage. Dan berusaha menampilkan Wage apa adanya.  Tidak ada pahlawan yang hanya memiliki sisi terang,” ungkap Andy saat sesi diskusi setelah pemutaran.

Film ini memiliki beberapa keunikan.  Ada unsur religi yang kental meski ia tidak bercerita soal agama Islam.  Elemen ini muncul ketika adegan wasiat ibunya sebelum meninggal dan juga adanya surat Al-Fath ayat 1 saat ia hendak menciptakan lagu. ‘Wage” juga mengangkat isu seputar pribumi sebagai hal yang sering menjadi wacana di Indonesia.

Melalui film berdurasi 120 menit ini,  kita akan mengetahui fakta lain seputar lagu kebangsaan Indonesia yaitu hilangnya 2 stanza lagu yang sebenarnya itu adalah doa yang diperuntukkan untuk negeri ini. Tidak hanya itu, keberhasilan John memberikan energi baru dari film-film sebelumnya yang pernah ia buat, menjadi alasan film ini masuk dalam kategori program JAFF Indonesian Screen Awards.

“JAFF ISA adalah program yang dihadirkan untuk membuka panorama baru di perfilman Indonesia.  Kehadiran ‘Wage’ dari hiatusnya John de Rantau dengan energi barunya,  membuat film ini harus kembali di putar dalam JAFF, ” ungkap Ifa Isfansyah selaku Festival Director. 

 

 

Justika Imaniar Hijri