Masuk dalam program spesial dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), “Return of the Salt Boy 2” diputar di Cinemaxx pada Jumat malam (30/11).

Gertjan Zuilhof selaku programmer mengatakan nama program spesial ini didapat karena terinspirasi dari dua film pendek, “Salt Boy” karya Margaret Bongs dan “The Return” karya Pimpaka Towira. Mereka adalah dua sosok yang juga membantu Zuilhof dalam menyelenggarakan program ini.

Film-film yang ditayangkan di dalam “Return of the Salt Boy 2” ini memadukan sejarah, memori, dan imajinasi. Program ini menyinggung isu-isu alam dan budaya pribumi yang dikemas secara ringan, sehingga tidak seserius program etnografi atau antropologi. Bahkan, “Riau” dan “Bontoc Eulogy” cenderung berani mengangkat topik-topik sensitif.

“Riau” adalah sebuah film dokumenter tentang Orang Laut (Gipsi Laut) di Kepulauan Riau, bagian dari penelitian jangka panjang Zai Kuning. Zai merupakan seniman Singapura multidisiplin yang telah bekerja dengan suara eksperimental dan musik, film, teater, dan disiplin lainnya.

Sedangkan “Bontoc Eulogy” bercerita tentang kompleksitas psikologis yang dialami orang-orang Filipina di St. Louis World’s Fair pada tahun 1904 yang menampilkan wacana tentang kekuasaan dan diskriminasi.Film ini dibuat oleh Marlon Fuentes yang merupakan imigran Filipina yang tinggal di Amerika.

Menurut Gertjan, film-film yang ia kumpulkan sangat sulit dicari. Fuentes, kata Gertjan, hanya membuat satu film sepanjang hidupnya.

“Ini adalah film yang cerdas, tajam dan sangat orisinil. Kamu akan diajak berpikir mengenai orang-orang pribumi di Filipina dan hal-hal lain yang jauh di luarnya,” kata Gertjan.

 

Dwi Atika Nurjanah