Persoalan buat film erat kaitannya dengan persoalan teknis seperti digital lighting. Program JAFF Education ikut membahas pentingnya memahami pencahayaan dalam pembuatan film di dalam kelas Digital Lighting 1 di Jogja National Museum pada hari Minggu (2/12).

Kelas ini diajar oleh Gunnar “Unay” Nimpuno, sinematografer film “The Night Comes for Us” (2018) dan Buadi, gaffer dari serial Netflix’s “Chef Table,” serta mentor tamu lainnya seperti Arief Pribadi, sinematografer film “Ruang” (2006) dan Nur Hidayat “Monod” sinematografer film “Nyai” (2016). Sesi pembelajaran ini membahas tentang pentingnya pencahayaan dalam pembuatan film yang bisa memberikan kesan dan struktur kuat di dalam karakter film.

Pada hari pertama, pembekalan soal pencahayaan hanya diisi materi dari keempat pembicara. Menurut Gunnar pencahayaan dalam pembuatan film sangatlah penting untuk memberi kesan yang kuat pada karakter maupun cerita.

Lighting itu muncul bukan karena keterbatasan kita membutuhkan informasi dalam sebuah gambar, lighting itu bisa kita desain untuk membangun emosi, ilusi ruang, dan konstruksi sebuah cerita, jadi lighting itu sangat kompleks dalam pembuatan film,” jelas Gunnar.

Bagi Buadi, seorang gaffer tidak hanya memahami secara teknis soal pencahayaan saja, tapi juga harus mengerti skenario yang terjadi di dalam film. Setiap adegan memiliki karakter cerita yang berbeda sehingga pencahayaan pun harus mengikuti konstruksi cerita agar sesuai dengan pemaknaan yang diinginkan.

“Kalau kita menjadi gaffer kita harus masuk ke semua unsur, dari bedah skenario segala macam, cek lokasi agar kita tahu apa kesulitan medan di lokasi, supaya pas kita ngasi tahu ke anak buah lebih mudah. Yang penting itu harus ikut bedah skenario,” tutur Buadi.

Konstruksi pencahayaan tersusun oleh beberapa unsur warna. Warna berperan sebagai pernyataan identitas seseorang. Ketika warna bercerita, warna dapat mempengaruhi seseorang secara emosional, psikologis, dan bahkan secara fisik yang seringkali tidak disadari. Warna dalam film dapat membangun harmoni atau ketegangan dalam suatu adegan dan memberi perhatian pada film.

Kelas digital lighting tidak hanya memberikan pengetahuan tentang pencahayaan secara teknis tetapi juga mengajarkan untuk memahami konstruksi warna pada cahaya yang cocok pada film-film. Menciptakan realitasnya sendiri, selama itu disajikan secara “nyata” maka penonton akan menangkapnya secara “nyata” pula. Bagaimana persepsi yang dihasilkan cahaya itu bisa ditangkap oleh penonton.

 

Dwi Atika Nurjanah