Hari keenam perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-13 yang bertema Disruption menyelenggarakan Open Air Cinema kelima di Pendopo Ajiyasa. Memutar dua film, yaitu film “Rong” karya Kelik Sri Nugroho dam film “Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara” karya Ray Nayoan di hari Minggu malam (02/12). Dipadati oleh 182 penonton, Pendopo Ajiyasa malam itu cukup riuh akan gelak tawa penonton saat menyaksikan film-film yang relevan dengan karakteristik mereka.

Film-film yang diputar dalam Open Air Cinema sendiri dipilih berdasarkan kriteria yang pas dengan karakteristik penonton umum.

“Film-film yang dipilih karena ramah sama penonton, tidak hanya penonton festival saja tapi bisa semua kalangan, film yang ada di Open Air Cinema dipilih oleh R. Mahardhika Subangun dan Reza Fahri,” jelas Indra Sukmana selaku Program Coordinator JAFF ke-13 di Empire XXI.

“Rong” yang dibuat oleh Kelik Sri Nugroho, seorang lulusan ISI Yogyakarta ini, bercerita tentang sosok Ningsih (28) yang tiba-tiba kerasukan setan Ratu Dhemit di hari pernikahannya. Ibunya, Bude Marsih, Pakde, Aminudin (calon suami), kedua calon mertua, serta handai taulan tidak mampu mengatasi keadaan. Pak Kaum yang dipanggil pun tidak dapat mengusuir setan tersebut. Akhirnya Pak Soekardjo berhasil menyembuhkan Ningsih setelah menyanggupi syarat-syarat yang diminta oleh Ratu Dhemit. Ningsih dan Aminudin pun akhirnya menikah.

Lalu kemudian dilanjuti dengan pemutaran film “Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara” karya Ray Nayoan yang merupakan lulusan film di University of Western Ontario, Canada. Bercerita tentang Syarifah dan Jaka yang seperti ditakdirkan bersama. Tanpa banyak basa-basi, Jaka langsung melamar Syarifah dan mereka pun menikah. Akan tetapi, menikaai seorang tentara memilki tantangan tersendiri bagi Syarifah. Ia harus menahan rasa rindunya kapan pun Jaka sedang bertugas. Layaknya pantai Sejuba yang dihiasi bebatuan besar nan indah yang menanti dtangnya mentari esok hari, Syarifah akan terus menunggu belahan jiwanya untuk kembali.

Open Air Cinema memberikan ruang bagi penontonnya dalam menikmati film yang tidak tayang di bioskop ataupun yang sudah tayang untuk bisa diputar lagi.

“Saya baru mengikuti JAFF tahun ini dan sudah menonton beberapa film seperti 27 Steps of May, acara seperti Open Air Cinema begitu menghibur, saranku untuk JAFF tahun depan untuk nambahin venue dan lokasi yang mudah dijangkau,” ujar Tyas,  mahasiswa Sosiologi Universitas Gajah Mada, seusai Open Air Cinema.

 

Dwi Atika Nurjanah