Jogja-NETPAC Asian Film Festival  membahas soal pendanaan dan berbagai persoalan segi finansial dalam proses pembuatan, distribusi, hingga eksibisi film dalam sebuah talkshow  di Jogja National Museum pada hari Sabtu (1/12). Peserta talkshow, yang merupakan sineas dan calon sineas,  mendapatkan berbagai solusi untuk mengatasi permasalahan yang pasti dihadapi.

Pembicara–pembicara handal yang sudah berpengalaman dalam pendanaan film dihadirkan untuk menjabarkan seluk beluk salah satu aspek terpenting dalam menghidupi perfilman ini. Ada Vivian Idris, program director dari Akatara yang dikenal masyarakat melalui perannya dalam film “Radit & Jani” (2008) dan “Pintu Terlarang” (2009). Saat ini, Vivian aktif di balik layar sebagai seorang produser dan sutradara berbagai film dokumenter yang mengangkat tentang kearifan lokal. Salah satunya adalah “Torajamelo, Weaving Compassion in Toraja” (2016).

Selain itu ada Saffira Permata Sari yang berasal dari media crowdfunding terbesar di Indonesia, Kitabisa.com. Akrab dikenal dengan panggilan Rara, ia berhasil menghubungkan banyak NGO dan perusahaan untuk bersama – sama turut membantu demi berbagai kebaikan.

Ada juga Paolo Bertolin dan Sarah Schiesser, pembicara dari Festival Film Locarno, sebuah festival film Internasional dari Swiss yang diadakan saat pertengahan tahun pada bulan Agustus. Paolo adalah seorang progammer festival dan produser film yang saat ini memiliki jabatan sebagai Konsultan Artistik Open Door Platform Festival Locarno. Sarah sendiri berstatus sebagai Manager Locarno Pro dan Kepala Deputi Open Doors Program Locarno Festival. Saat ini, mereka tengah gencar membawa festival film Locarno untuk mulai memperhatikan perkembangan geliat perfilman di Asia Tenggara dan Mongolia.

Antusiasme peserta sangat tinggi, bahkan melebihi target sebelumnya. Total ada 68 orang peserta yang hadir untuk tahu lebih banyak soal pendanaan film. Mereka tidak segan untuk berdiri di luar ruang forum lantai 2 Jogja National Museum untuk mendengarkan talkshow yang dimoderatori oleh Ifa Isfansyah ini.

Vivian mengawali sesi dengan penjelasan tentang Akatara. Sebuah organisasi yang merupakan kolaborasi usaha dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Badan Perfilman Indonesia (BPI). Akatara fokus bergerak untuk menumbuhkan investasi film Indonesia, menjadi penghubung antara para sinemaker dengan investor yang kelak bersedia mendanai film mereka.

“Saat ini di Indonesia, sulit untuk menemukan kedua pihak ini. Sinemaker tidak tahu bagaimana mencari investor, Investor sendiri tidak memahami kondisi sinemaker saat ini. Kami menjadi penengah untuk persoalan tersebut. Bisa dibilang kami sebagai mak comblang yang menghubungkan kreator – kreator ini dengan investornya. Begitu juga sebaliknya,” jelas Vivian.

Akatara mempelajari bagaimana terkadang investor kapok untuk menanam modal kembali bagi bisnis film. Mereka meminimalisir permasalahan tersebut dengan menjadi penengah agar standar bisnis perfilman Indonesia bisa terus meningkat dan lebih produktif dalam memunculkan film–film berkualitas. Akatara atlif mengadakan workshop, kurasi, hingga mendampingi  industri kreatif film yang mereka konsulkan hingga masa post-produksi. Di tahun 2018 ini, mereka memproses sekitar 50 proposal proyek film, dari pendek, panjang, animasi, hingga dokumenter.

Kitabisa.com menjadi solusi lain untuk mengatasi segi pendanaan film melalui jalur crowdfunding. Rara menjelaskan bagaimana peran penting crowdfunding tidak hanya untuk solusi pertolongan terhadap orang–orang yang kesusahan, sakit, dan membutuhkan uluran dana bantuan kesehatan. Saat ini Kitabisa.com sudah memiliki peran yang jauh lebih beragam dalam tujuan proses pengumpulan dananya.

“Kita tidak hanya sebagai penolong bagi masyarakat yag membutuhkan uluran tangan saja, unuk yang sakit saja. Industri kreatif juga memilih Kitabisa.com sebagai platform yang bisa mendukung aktivitas mereka. Bahkan kami juga membantu kegiatan pengumpulan dana untuk pembuatan film ujian akhir semester dari beberapa pihak,” ungkapnya.

Rara juga menekankan pentingnya network dan storytelling bagi setiap proyek yang dijabarkan supaya mendapatkan perhatian yang lebih dari pengakses Kitabisa.com.

Peran Locarno Festival sendiri lebih ke bagaimana meningkatkan standar film di Indonesia ke level yang lebih tinggi. Melihat proses bisnis film yang berbeda antara Indonesia dengan Eropa. Investasi disana bukannya dibilah mudah untuk dilakukan tetapi lebih ke jalurnya yang lebih jelas karena  pihak – pihak di dalam arus itu sudah memaksimalkan peran mereka masing – masing.

“Mungkin di Eropa, kurang tepat untuk menyebut mereka investor. Bahkan status mereka sudah bisa sebagai produser bagi sebuah film. Indonesia berbeda, investor lebih ke status mereka sebagai individu–individu. Kami sudah berbentuk institusi yang menaungi itu semua,” jelas Paolo.

Di periode tahun 2019 hingga 2021 nanti, Locarno akan memfokuskan diri pada regional Asia Tenggara dan Mongolia untuk membantu geliat perfilman menjadi jauh lebih berkualitas. Menjaring bakat–bakat berbakat yang sulit untuk dipantau kalau hanya sekedar menunggu. Ada tiga program yang akan dihadirkan Locarno untuk menjalankan tujuan mereka tersebut, yaitu Open Doors Hub, Open Doors Lab, dan Open Doors Screening.

“Parallel open door kami hampir mirip namun peran yang mereka lakukan berbeda. Open Doors Hub untuk menghubungkan proyek film kalian dengan partner potensial dari Eropa. Open Doors Lab fokus menyediakan alat – alat terbaik untuk mengembangkan film kalian ke tahap selanjutnya, lebih ke meningkatkan skill. Open Doors Screening, kami akan mengkurasi film – film yang layak untuk dipublikasikan lebih luas. Berbeda dengan Hub dan lab bukan kalian yang mendatangi kami, tetapi kami yang memantau kalian lebih dalam,” jelas Sarah.

 

Titus Kurdho