Hari ke-5 berlangsungnya Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 menjadi hari pertama program Jogja Future Project (JFP) digelar. Tahun 2018 adalah tahun kedua diselenggarakannya program ini. JFP diadakan di Jogja National Museumdan berlangsung sejak pukul 13:00 pada hari pertama, Sabtu (1/12).

Menjadi salah satu program yang diunggulkan dalam JAFF tahun ini, Said Nurhidayat selaku koordinator Special Event yang membawahi JFP mengatakan bahwa secara garis besar JFP adalah sebuah program semacam film market yang mengusung konsep one on one pitching dan mempertemukan para pembuat film dengan investor dan produser sehingga dapat bertemu dan berdiskusi.

“Harapannya seperti itu, bisa melahirkan bakat-bakat baru untuk perfilman Indonesia, khususnya Asia. Tapi harapan itu, balik lagi ke temen-temen bisa konsisten atau ngga. Syukur-syukur dari yang pernah ikut JFP itu bisa melahirkan karya-karya baru dan terobosan-terobosan baru untuk perfilman kita,” lanjut Said.

Tahun ini, JFP bekerja bersama tiga juri yaitu sutradara Angga Sasongko, Eddie Cahyono, dan produser Meiske Taurisia. Melalui keputusan tiga juri tersebut, terpilihlah sepuluh finalis pada program JFP kali ini. Kesepuluh finalis tersebut adalah Candra Aditya, Diego Batara Mahameru, Eden Junjung, Ricky Zakaria, Heiro Say, Bani Nasution, Muhammad Ridwan, Bambang ‘Ipoenk’ K. M., Rachmad Hidayat Mustamin, dan Zhaddam Aldhy Nurdin.

Diego Batara Mahameru merupakan salah seorang finalis dengan proyek film berjudul ‘Laskar Laron (Mayflies in The Mayhem)’. Film ini menceritakan tentang kisah seorang ayah yang setelah ditinggal istrinya menjadi terpapar radikalisme dan berujung melakukan pengeboman suatu gereja bersama anak-anaknya.

“Cerita ini adalah cerita yang ditulis based on bom di Surabaya kemarin (May 2018), cuman kita treat cerita ini sebagai drama keluarga,” tutur Diego.

Finalis lain, Eden Junjung sebagai sutradara dari filmnya ‘Mayday’ mengangkat tema diskriminasi gender dan kekerasan seksual terhadap buruh perempuan yang masih berlangsung hingga sekarang, bahkan terjadi dengan cara yang terstruktur dan sistematis. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh seorang atasan ke para pekerja, tetapi juga dilakukan oleh sesama pekerja.

“Aku selalu mengangkat isu kemanusian dan isu sosial di film-filmku. Permasalahan kemanusiaan adalah permasalahan yang harus kita sikapi bersama. Mungkin hari ini tidak terjadi pada kita, tapi kalo kita hanya diam, tidak bertindak, bisa jadi itu terjadi pada kita sendiri. Dan karena kami filmmaker, kita juga untuk ambil alat masalah itu melalui media film,” ujar Eden.

Cerita anak-anak juga hadir melalui film berjudul ‘Nyanyian Sahara’ karya sutradara Zhaddam Aldhy Nurdin yang juga menjadi salah satu finalis dalam JFP tahun ini. Film ini bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Rian (11) yang bersahabat dengan seekor sapi bernama Sahara pemberian ayahnya. Suatu hari keluarganya terlilit hutang dan terpaksa menjual Sahara ke salah satu saudagar di desa mereka. Setelah uang hasil menjual Sahara dibayarkan, Sahara menghilang. Rian bersama keempat temannya Bahar, Ayos, Marni, dan Jodi berpetualang mencari Sahara sampai ia ditemukan dan akhirnya menghilang selamanya.

“Saya pada dasarnya suka film anak-anak sih, sebenernya. Saya dari dulu kepengen membuat atau menelusuri sebuah film (tentang) kehidupan anak-anak. Mereka punya cara lain untuk bahagia. Mereka tidak harus mengemis ke orang tua mereka minta kuota, minta pulsa untuk internet. Mereka cuma bermain di sawah dan bahagia,” tutur M. Yusuf Abdulgan selaku produser.

Memasuki tahun kedua, peran JFA sebagai salah satu program Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-13 dianggap penting. Merupakan sebuah kegiatan yang positif, menurut Dwi Susanti selaku chief program JFP. Kegiatan ini menjadi sebuah wadah bagi dua pihak (filmmaker dan investor) yang sulit untuk dipertemukan, sehingga mereka dapat berkolaborasi membuat karya untuk menjadi lebih maju.

 “Kita tuh layaknya biro jodoh untuk mempertemukan para filmmaker bersama investornya,” ucap Dwi.

Berakhir pada pukul 17:00 di hari pertama, Jogja Future Project akan kembali dilanjutkan esok hari, Minggu (2/12) dan Senin (3/12).

 

Winona Argavany