Karya kedua dari Djenar Maesa Ayu hasil kolaborasi dengan suaminya, Kan Lume kembali diputar pada Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di Empire XXI Sabtu Malam (1/12). Sejak satu jam dibukanya on the spot ticket, film yang diputar di malam minggu ini, menarik banyak penonton sehingga membentuk barisan panjang keluar Lobby Empire XXI. Film yang kali pertama diputar JAFF di tahun ke-13 ini, berhasil menarik 192 orang untuk menghabiskan malam minggunya.

Terdapat empat bagian dalam film ini yaitu This Is His Story, This Is Her Story, This is Our Story dan If This Is My Story. Empat bagian film yang secara garis besar menceritakan dinamika sepasang suami istri yang sudah menjalani usia pernikahan 7 tahun.  Permasalahan sering menghiasi kehidupan sepasang suami istri dengan perdebatan-perdebatan dan dialog yang mendalam. Dibagi dalam beberapa sudut pandang dalam empat bagian, Djenar dan Kan Lume ingin mengangkat film yang tidak memihak.

“Kami ingin mengembangkan perspektif kedua tokoh tersebut, sehingga tidak memihak. Dari berbagai perspektif tersebut, saya ingin mengajak orang untuk menyimak, mempunyai opini dan perspektif sendiri. Agar bisa mengerti dan mendengarkan satu sama lain,” jelas Djenar.

Diperankan oleh Sha Ine Febriyanti, Reza Rahardian dan Cornelio Sunny, film ini memiliki ending twist sehingga akan membuat penonton bertanya-tanya. Menggunakan konsep film di dalam film, dengan karakter perempuan yang sama dan pria yang berbeda menimbulkan banyak pertanyaan bagi penonton saat sesi diskusi yang diadakan lesehan di luar area Empire XXI.

“Saya hanya menunjukkan karakter seseorang yang ‘bisa’ nyaman menjadi diri mereka sendiri pada kondisi yang tertentu. Dee yang di pantai akan menjadi orang yang dia mau sedangkan di dalam rumah ia akan menjadi perempuan yang sarkastik,” tambahnya.

Selain dibangun dengan banyak perspektif, film yang digambarkan dengan hitam putih ini sebenarnya mengangkat permasalahan yang pernah dialami oleh siapapun perihal salah dan benar yang dianalogikan dalam warna hitam dan putih. Menurut Djenar, kebenaran orang lain tidak sama namun banyak yang menyeragamkannya.

“Hitam dan putih juga aka nada di dalam kehidupan kita, bagian mana yang akan putih dan mana yang hitam, ditentukan oleh kita sendiri,” jelasnya.

Dalam proses syuting yang hanya memakan waktu dua hari ini, Djenar mengaku tidak ada pembagian khusus dalam menyutradarai film ini dengan suaminya. Ditambah dialog-dialog yang panjang dalam beberapa scenenya, bahkan pada akhir scene diambil dengan satu shoot yang panjang.

“Saya dan suami bekerja dengan saling menyempurnakan satu sama lain. Tidak ada pembagian khusus. Dan ia (read: Kan Lume) adalah orang yang hebat dalam membuat film ini,” tutup Djenar.

 

Justika Imaniar Hijri