Film dibuka dengan bertemunya kedua orang kriminal yang merupakan sahabat lama, Ah Soon (Eric Chen) yang baru saja keluar dari penjara dan Tai Loo (Sunny Pang), seorang supir taksi pemimpin sebuah grup kecil yang melakukan aktivitas pencurian dan pemerasan kepada para penumpangnya yang telah dijadikan target operasi. Kemampuan dan pengalaman dari Ah Soon membuatnya diajak  bergabung dengan grup tersebut oleh Tai Loo.  Kepemimpinan Tai Loo mengontrol anggota dan kegiatan kriminal mereka secara konsisten mampu membuat mereka bertahan lama. Kelompok ini  mendapatkan keuntungan tidak besar namun gerak–gerik mereka sangat sulit untuk diendus polisi. Rencana yang matang dan eksekusinya bisa dikatakan sempurna. Perjalanan karir dunia bawah yang aman dan tentram itu pun perlahan–lahan terganggu. Ego dari salah satu anggota, adik Tai Loo, Ah Wai (Fabian Loo) mengancam secara perlahan, satu persatu masalah bermunculan. Konflik mereka dengan triad hingga dibuntuti oleh polisi harus diselesaikan secepatnya, bukan hanya mengganggu pekerjaan namun juga keselamatan mereka. Pemutaran “Fly By Night” menutup perhelatan JAFF hari kelima di Empire XXI (1/12).

Karakter Tai Loo adalah sosok yang karismatik dan begitu menyayangi keluarganya, sedangkan Ah Soon begitu tampak garang dan mengintimidasi. Karakter Kamal yang diperankan Bront Palare, seorang inspektur polisi cerdas yang mengganggu kawanan Tai Loo berhasil menunjukkan karakterisasi mereka secara total. Joko Anwar menjadi perhatian di film ini, muncul sebagai cameo saat disidak Kamal. Karakter Joko bernama unik dan akrab di telinga orang Indonesia, memberi gelak tawa bagi penonton di studio kala itu. Gaya penceritaan “Fly By Night” dibangun secara perlahan sampai memperhatikan detail sekecil mungkin sehingga semua permasalahan yang terjadi tidak menumpuk satu sama lain. Tidak akan mengira sebuah benda yang selalu dipakai salah satu karakter bisa mengubah segalanya. Penonton dibawa ke sebuah cerita yang tampaknya akan berakhir seperti diperkirakan ternyata tidak semudah itu. Zahir memutar balikkan itu semua dengan tepat diselingi tensi situasi dan kondisi sepanjang film dibentuk sedemikian rupa secara kompleks namun rapi. Separuh akhir film tidak hanya satu namun banyak twist yang disajikan. Memang tidak megah, lebih ke sederhana namun elegan dalam kesederhanaan itu.

Zahir Omar, sang sutradara bisa dibilang memberi angin segar baru bagi perfilman Malaysia. Film feature panjang pertamanya yang baru saja premiere di Busan International Film Festival 2018. Zahir pun mendaftarkan filmnya di detik – detik terakhir pendaftaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018. Sebuah neo-noir yang menghibur namun tidak menjual aksi baku hantam berlebihan. Pendekatan taktis dan adu otak justru lebih ditonjolkan sepanjang film. Ia memilih sebuah tema sederhana dari dunia bawah namun jarang dipikirkan. Kehidupan sopir taksi yang ternyata memiliki pilihan jalan hidup lain sebagai pekerjaan di balik pekerjaan utamanya.

“Kita sebagai manusia itu tidak black and white, tidak murni hitam dan putih. Kalau dunia underground itu, melihat kehidupan penjahat bisa lebih mengamati sisi humanitynya. Mendorong karakter mereka supaya muncul itu menarik untuk dilakukan.” jelasnya.

Tentu saja, penonton tidak akan lupa scoring dan soundtrack dari Fly By Night. Musik yang disuguhkan untuk sebuah film yang mengangkat kriminalitas di dalamnya justru tidak menegangkan. Penonton menikmati setiap aksi mereka seakan menonton suatu pertunjukkan bakat. Film ini mengingatkan pada sebuah series lama berjudul Cowboy Bebop. Nostalgia untuk mereka menjadi penggemar series tersebut. Alunan jazz bangers dengan bumbu blues bangers dalam tindak kejahatan memang amat merdu di telinga.

 “Goalnya itu menghibur. Kultur dan bahasa Indonesia dengan Malaysia kan mirip – mirip ya, sama – sama Melayu. Saya amat bahagia melihat penonton merespon beberapa scene dengan tertawa atau serius mengamati ketika aksi dilakukan”, tambah Zahir.

Saat ditanya mengenai Jogja-Netpac Asian Film Festival, Zahir dengan wajah bahagia langsung menyampaikan pendapatnya.

“Ini kali kedua saya di Jogja, kali kedua juga saya mengikuti sebuah festival film. Pertama kalinya film feature panjang pertama saya ini tampil di JAFF. Festival is cool, orang – orangnya bersahabat. Luar biasa, sangat bagus. Everything is still feel new to me, It’s very exciting”, tambah Zahir.

 

Titus Kurdho