Pemenang film terbaik Piala Citra di tahun 1991 yang berjudul “Cinta dalam Sepotong Roti” karya Garin Nugroho kembali hadir di layar bioskop Indonesia melalui Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). “Cinta dalam Sepotong Roti” yang tayang di hari Jumat sore (30/11) di Empire XXI menjadi film keempat dalam program ‘Focus On Garin Nugroho’ yang telah diputar di JAFF.

Film bergaya New Wave Perancis yang dibintangi almarhum Adjie Massaid ini menjadi road movie pertama di Indonesia. Di tengah krisis perfilman Indonesia, Garin membawa terobosan cara bertutur yang berbeda. “Cinta dalam Sepotong Roti” bercerita tentang kegelisahan tentang tiga sahabat yang hidup dalam rezim Orde Baru yang represif. Mereka digambarkan kesulitan mengungkapkan perasaan satu sama lain.

Film ini bercerita tentang Mayang (Cut Rizky Theo), Topan (Tio Pakusadewo) dan Harris (Alm. Adjie Massaid) yang memiliki keunikan dalam bertutur dengan menggunakan puisi dan dialog yang cukup baku. Tidak hanya melalui dialog, pengambilan gambar dalam film ini juga terlihat puitis. Seperti adegan bertengkar dengan latar pantai yang indah, judul yang gagah, dan pada salah satu adegannya menampilkan musikalisasi dari puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Aku Ingin.”

Pemutaran ini menarik 83 penonton, termasuk kritikus film Paolo Bertolin dan Sarah Schiesser,  dan mereka cukup antusias di sesi tanya jawab yang interaktif.

Umi Lestari sebagai salah satu penonton yang menyukai film-film garapan Garin mempertanyakan adegan seks dalam film yang tidak dibangun dengan vulgar seperti film lainnya pada tahun 1990an. Garin menjelaskan adegan itu bangun dengan sepotong-sepotong agar penonton bisa menerjemahkan kembali dengan persepsi mereka.

“Dengan gaya saya yang seperti itu, sempat diperdebatkan. Bahkan setelah film ini keluar, saya pernah mendapat artikel dari seorang kritikus film yang meminta saya harus kembali sekolah film lagi,” jelasnya.

Meskipun film ini hadir jauh sebelum teknologi canggih menjamur seperti saat ini, persoalan mengekspresikan diri dalam film ini masih relevan dengan persoalan yang dihadapi oleh anak muda saat ini.

Ditemui setelah pemutaran, Garin menjelaskan adanya perbedaan tekanan yang dihadapi orang jaman dulu dan sekarang dalam mengungkapkan pendapat. Tekanan pada tahun 1990an hadir karena politik tertutup yang diterapkan pada zaman itu. Namun, menurut Garin, ketegangan untuk berpendapat masih terjadi hingga sekarang walau tidak setertutup dahulu. 

“Padahal kita sudah harus bisa mengekspresikan diri kita, terutama persoalan perasaan,” tutupnya.

 

 Justika Imaniar Hijri