Hari keempat terselenggarakannya Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2018 ditutup dengan Asian Perspective’s Shorts 3 di Empire XXI pada Jumat malam (30/11). Menyajikan empat film dari berbagai negara di Asia yaitu “Identity,” “Another Dimension,” “CA$H” dan “It’s Wijilan” program ini berhasil menarik perhatian 184 penoton yang hadir di studio 5.

Asian Perspektives Shorts adalah salah satu program non kompetisi dari JAFF yang memutarkan film pendek dari berbagai genre di negara-negara di Asia Pasifik. Program ini hadir untuk memberikan perspektif atau gaya pandang baru untuk pencinta sinema dalam melihat kejadian-kejadian yang telah terjadi.

Program diibuka dengan “Identity” yang berdurasi  8 menit garapan sutradara J. Hendry Noerman dari Indonesia. Hendry menceritakan tentang trauma yang pernah ia alami  mengenai kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) pada masa darurat militer (1998 – 2003) di Aceh. Penggambaran visual animasi yang sederhana menjadi daya tarik film ini.

Film kedua adalah “Another Dimension” karya Kritsada Nakagate dari Thailand. Dalam 24 menit, Kritsada menampilkan pemahaman gadis muda yang sangat berbeda saat ia masih kecil dan baru ia mengerti pada 42 tahun kemudian.

“CA$H” karya sutradara asal Singapura, Tan Wei Ting, menceritakan bentuk protes para pekerja supermarket yang mengunci diri mereka pada malam hari di supermarket setelah tempat kerja mereka menerapkan kebijakan berbelanja dengan sistem cashless. Tan Wei dengan singkat dan padat menyorot nasib mereka yang harus kehilangan pekerjaan dan bertahan hidup dalam durasi 11 menit.

“It’s Wijilan” menjadi film yang paling memiliki daya tarik di sesi ini karena berlatar di Kota Yogyakarta. tepatnya di jalan Wijilan. Selain sutradara, warga Wijilan juga ikut hadir dalam sesi tanya jawab seusai pemutaran.

Film ini bercerita tentang Hell House, sebuah komunitas musik di Jalan Wijilan yang mengajarkan genre hip hop kepada anak-anak.

Menurut sutradara Alexander Sinaga, nama komunitas itu diambil dari celetukan semata.

“15 tahun lalu, saat kami masih suka nongkrong, tempat tongkrongan kami itu sumuk-nya bukan main, sampai ada yang celetuk ‘Like a HELL’. Selain itu, jika diartikan dalam Bahasa Jerman, Hell itu adalah cahaya,” jelas Alexander.

Beraktivitas dengan anak-anak bukanlah hal yang mudah. Hell House membuat pelatihan hip-hop bernama Kidz on the Beat untuk  anak-anak. Melatih hip-hop untuk anak-anak terbilang tidak mudah. 

“Kami tidak memaksakan program ini. Bahkan bisa dibilang kami mengikuti kesibukan anak-anak saja. Kami tanyakan satu persatu ‘koe iso dino opo?’. Tapi sekarang, justru orang tua mereka yang meminta mengintens-kan kegiatan ini, karena dirasa bermanfaat,” kata Alexander. 

 

Justika Imaniar Hijri