Canda dan tawa anak–anak terdengar dari sebuah studio di Cinemaxx Lippo Plaza. Kegembiraan karena hendak menonton sejumlah film dalam acara Art For Children pada perhelatan hari kelima Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018 (2/12) tampak di raut mereka. Wajah-wajah mungil yang tidak sabar untuk segera menonton sembari ditemani orangtua masing-masing.

Art For Children adalah nama acara khusus untuk anak-anak yang dihelat oleh JAFF ke-13. Kali ini, JAFF bekerjasama dengan KINEKO International Children’s Film Festival, sebuah festival film dari Jepang untuk anak–anak yang telah berdiri sejak tahun 1992. Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan Workshop Fun Robotica bersama HONF Fabkids Program.

JAFF juga turut menghadirkan Morgan Oey sebagai duta program untuk memandu keseluruhan rangkaian acara yang dimulai sejak pukul 10 pagi itu. Terdaftar ada 33 anak sebagai peserta Art For Children yang menghibur, mendekatkan diri pada film, sekaligus mengasah kreativitas anak dalam seni.

Ada empat film yang diputar di acara Art For Children. Film – film itu adalah “Komaneko The First Step,” “Fox Fears,” “Momo & Her Cat,” dan “Matasaburo of The Wind.”

“Komaneko The First Step” bercerita tentang seekor kucing kreatif bernama Koma yang mendapatkan tantangan untuk membuat sebuah film.

Melalui “Fox Fears,” anak – anak memaknai arti penting sebuah keluarga terutama sosok seorang ibu dari sudut pandang Bunroko, tokoh utama film ini. Bunroko adalah seorang anak yang hendak pergi ke sebuah festival bersama teman – temannya. Ketika membeli sebuah penyumbat telinga, Ia mendengar suatu cerita takhayul tentang  keluarga rubah.

“Momo & Her Cat” mengikuti kehidupan Momo dan kucingnya, sejak pertemuan awal hingga akhir kisah mereka yang hangat.

“Matasaburo of The Wind” menceritakan seorang gadis kecil yang baru saja pindah desa. Penduduk desa mengira gadis kecil itu ialah Matasaburo, anak dari dewa angin. Teman–teman sekolah gadis itu yang baru juga mengira demikian. Gadis kecil itu heran dipanggil seperti itu, ia yang juga kesal karena harus hidup di desa ke ayahnya justru bertemu dengan dewa angin yang sesungguhnya. Cerita bergulir seiring langkah bersama temannya dari si kelinci, beruang, kura–kura, babi, hingga seorang anak laki–laki menuju atas bukit. Celetukan anak – anak yang lucu terkadang terlontar sepanjang film diputar, membuat suasana semakin gembira.

“Anak–anak begitu ceria menonton film – filmnya, terutama banyak karakter binatang yang merasa dekat dengan mereka. Ceritanya ringan tetapi juga bermakna bagi anak dan orangtuanya. Sangat menyenangkan.” ujar Morgan di sela–sela acara.

Morgan berharap acara dan film anak semacam ini terus dilakukan, selain memberi hiburan bagi anak dan keluarga juga mendidik mereka dalam menjalani kehidupan sebagi anak – anak.

“Seharusnya semakin banyak ya, mereka memiliki dunia mereka sendiri sehingga harus ada film yang memberikan kebahagiaan bagi dunia mereka. Selain itu ini bagus untuk mendekatkan hubungan orang tua dengan anak –anaknya.”

Setelah film selesai, anak–anak berjalan menuju atrium bawah untuk membuat robot Fun Robotica bersama HONF Fabkids Program. Senyum mengembang sepanjang jalan membahas tentang film yang telah mereka tonton dengan orangtuanya. Rasa penasaran untuk membuat robot pun disalurkan melalui karya–karya mereka yang beraneka rupa.

 

Titus Kurdho