Para penikmat film sudah lama menantikan film “Ave Maryam” karya Ertanto Robby Soediskam yang tayang perdana di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada hari Jumat  (30/1) di Empire XXI.

Sutradara muda yang dikenal dari filmnya yang berjudul “7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita” ini berusaha memberikan angin segar di kancah perfilman Indonesia. Rangkaian sinopsis dan cuplikan trailernya menimbulkan rasa penasaran di benak khalayak untuk menontonnya. Antrian mengular selama dua jam di Empire XXI menunjukkan animo yang sangat tinggi terhadap film yang dibintangi oleh Maudy Koesnadi dan Chicco Jericho.

“Robby telah berani membuat karya yang langka. JAFF merasa sangat beruntung, anda semua juga sangat beruntung karena mendapatkan alternatif yang berbeda dengan cara tutur yang beragam.” jelas Garin Nugroho dalam pengantar sebelum “Ave Maryam” diputar.

Drama ini bercerita tentang seorang suster atau biarawati yang bernama Maryam (Maudy) yang tinggal di susteran alias rumah untuk para biarawati di kota Semarang. Selain menjalankan kaulnya sebagai seorang hamba Tuhan, ia juga diberi tugas untuk merawat para biarawati yang berusia lanjut. Salah satunya Suster Monic (Tutie Kirana). Film ini menggambarkan hari-hari Maryam yang tenang dan penuh pengabdian, sampai suatu hari datang seorang pastor bernama Pastor Yosef (Chicco Jerikho) yang bertugas mengajar orkestra.

Perlahan, Maryam dan Yosef saling menaruh perhatian. Robby pun menggambarkan beragam pergolakan yang menggoyahkan batin dan jiwanya dengan apik. Pengambilan gambar Ical Tanjung sebagai sinematografer memang amat memanjakan mata. Tampilan susteran yang mengingatkan akan sudut–sudut rumah berarsitektur Eropa yang cantik. Kemegahan visual dari dalam gereja saat para suster berdoa mengundang decak kagum.

Beberapa adegan dalam “Ave Maryam” sengaja dibuat cukup lama oleh Robby Soediskam untuk memberi kesempatan timbulnya rasa, tidak sekedar persoalan alur cerita.

“Keinginan utama dasar saya supaya sinema Indonesia beragam. Besok harusnya ada cerita dari Hindu, Buddha juga yang seharusnya bisa lebih banyak ditampilkan.” jelas Robby setelah membahas filmnya yang kemungkinan bisa menimbulkan pergolakan kecil di masyarakat Indonesia yang dikenal agamis.

Jejeran cast dari Maudy, Chicco hingga Joko Anwar yang berperan menjadi salah satu pastor menyuguhkan penampilan akting yang layak untuk dipuji.

“Setelah film ini, saya menyadari bahwa aktor Indonesia sudah punya kesadaran banget tentang pemeranan. Segala sesuatu dalam film bukan harus menjadi dirinya sendiri tetapi karena keharusan profesionalitas.” ujar Robby.

Diskusi tentang “Ave Maryam” masih berlanjut saat penonton keluar dari gedung bioskop. Beberapa diantaranya adalah Nestin seorang freelancer film dan Desi dari UGM.

“Saya mendapatkan info film ini sejak setahun yang lalu. Saya belum membaca sinopsisnya, sepertinya seputar soal kehidupan Katolik dan isunya terbilang jarang. Ketika melihat akan diputar di JAFF, saya langsung tertarik untuk menonton.” Jelas Nestin.

“Melihat film ini itu selain ceritanya bagus, saya langsung tahu kehidupan susteran seperti apa, padahal saya seorang Kristiani, tetapi justru semakin bertanya–tanya tentang ketidaktahuan saya setelah menonton film ini,” tambah Desi yang tertarik dengan kehidupan pastor dan suster lebih dalam lagi.

Bernard Batubara, seorang penulis buku yang sudah meluangkan waktunya setiap hari menonton film–film Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018 menyampaikan kekagumannya setelah menonton Ave Maryam saat ditemui JAFF.

“Saya melihat poster dan judulnya menarik banget awalnya. Film–film bertema agama bagiku pribadi selalu menarik, sih. Awalnya saya menduga konfliknya kayak gimana terus beberapa adegan terakhir cukup shocking karena jarang muncul di film Indonesia. Menurutku itu merupakan cara pembuat filmnya untuk menghargai penontonnya.” ungkap Bernard.

“Sebagai negara yang multikultural, kita perlu variasi film bertema agama gitu. Kita masih kekurangan variasi. Kita boleh berharap di tahun–tahun ke depan ada film tentang agama-agama lain, bukan cuma agama–agama besar yang diakui undang–undang tetapi juga agama-agama di luar itu untuk menghargai keberagaman sebagai kekuatan negara kita.” tambahnya.

 

Titus Kurdho