Setelah sukses menarik ratusan mata dalam acara pembukaan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 di Jogja National Museum pada Selasa (27/11) malam, film hasil kolaborasi Indonesia dan Jepang, “The Man From The Sea” karya Koji Fukada dari program Respect Japan kembali ditayangkan di Cinemaxx, Lippo Plaza Jogja, pada hari ke-3 JAFF, Kamis (29/11) pukul 10:00 pagi.

Film ini bercerita soal seorang lelaki misterius (Dean Fujioka) ditemukan di sebuah pantai di Banda Aceh, Indonesia. Takako (Mayu Tsuruta) adalah seorang warga negara Jepang yang tinggal di Indonesia dalam misi penanggulangan bencana. Bersama dengan anaknya Takashi (Taiga), dan keponakannya Sachiko (Junko Abe) yang baru datang dari Tokyo, mereka merawat lelaki tersebut yang ternyata mengerti sedikit Bahasa Jepang. Lelaki tersebut mereka namakan Laut. Teman Takashi, Kris (Adipati Dolken) dan seorang jurnalis muda bernama Ilma (Sekar Sari),  mulai menjalin sebuah hubungan persahabatan dengan Takashi dan Sachiko. Sementara itu, Laut mulai melakukan keajaiban demi keajaiban yang mencelakakan dan menimbulkan kecurigaan, sehingga orang mulai bertanya-tanya siapa dirinya sebenarnya.

Sekar Sari, pemeran Ilma, hadir mengisi sesi tanya jawab di akhir pemutaran film di hadapan 95 penonton yang memadati Cinema 3 di Cinemaxx. Aktris kelahiran 1988 ini memulai sesi dengan bercerita bagaimana awalnya ia dapat bergabung ke dalam proyek film tersebut.

Melalui tahap awal berupa open casting yang produksinya ditangani oleh Palari Films, Sekar Sari mengikuti tahap tersebut dengan terlebih dulu berhubungan dengan Edwin dari pihak Palari Films.

“Castingnya lewat video dulu awalnya, belum ketemu sama Koji, Koji Fukada, sutradaranya. Kemudian, pertemuan kedua melalui skype dengan Koji. Terus setelah itu dikabarin kalau lolos casting,” tutur Sekar.

Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam kultur Jawa, Sekar merasa tertantang untuk memerankan tokoh Ilma yang merupakan seorang wanita Aceh. Satu bulan sebelum berangkat syuting ke Aceh, Sekar yang memerankan seorang perempuan Aceh mendapat pelatihan bahasa daerah tersebut di Jakarta. Tetapi, setelah sampai di sana, Sekar merasa apa yang telah dipelajari agak berbeda pada logat dan penggunaan bahasa sehari-hari anak muda Aceh pada saat ini.

“Tentunya yang di Jakarta sudah memberi banyak bekal, tapi waktu di Aceh diasah lagi bahasa sehari-harinya,” ungkap Sekar, “Menurut saya bahasa Aceh tuh, ya, cukup susah, gitu, karena kaya sekali dialeknya. Ada yang kesannya, oh, ini kok kayak Indonesia timur, ya? Oh, kok ada Jawanya? Terus ada banyak dari Arabnya,” Sekar melanjutkan.

Sekar juga berbagi soal pengalamannya bermain di film ini. Menurut Sekar, Koji sebagai seorang sutradara cukup berhasil dalam mengemas hal-hal dalam film menjadi sangat menarik, mulai dari metafora alam, peristiwa tsunami di Aceh, hingga sejarah masa lalu Indonesia dan Jepang.

“Partnernya Koji sendiri, dia juga orang yang bekerja di NGO (Non-Governmental Organization) untuk recovery pasca tsunami saat itu,” jawab Sekar, “Itu juga yang kemudian membuat Koji mengetahui lebih banyak tentang masyarakat Aceh,” lanjutnya.

Tokoh Laut sendiri adalah usaha Koji menghadirkan alam dalam wujud karakter manusia.

“Ada banyak indahnya, tapi ada banyak sekali (juga) sisi misterius yang (ternyata) lebih banyak,” ucap Sekar.

Menurut Sekar, kendala bahasa juga dialami oleh Koji yang tidak lancar berbahasa Inggris. Selama di lokasi, Koji yang film terakhirnya terakhirnya “Harmonium” mendapatkan Prize of Un Certain Regard di Cannes Film Festival selalu ditemani oleh tiga asisten sutradara, yakni satu orang Jepang dan dua orang Indonesia.

“Kita juga udah manggut-manggut gitu, walaupun kita belum tau artinya apa. Terus baru setelah di-translate sama asisten sustradara yang orang Jepang ke bahasa Inggris gitu, kita oke, baru paham,” ungkap Sekar dengan tawa.

Berangkat dari perbedaan bahasa, para kru juga belajar perbedaan kultur kerja antara Jepang dan Indonesia dalam produksi film. Dengan demikian, proses pembuatan film ini juga menjadi pertukaran budaya. Di hari pertama, Sekar bercerita, para kru Indonesia mencoba untuk mengikuti etos kerja Jepang yang terkenal sangat disiplin. Misalnya saat pengambilan gambar, semua kru ikut berdiri, baik yang berada tepat di lokasi pengambilan gambar maupun tidak. Dan perlahan-lahan kru Jepang juga belajar dari kru Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan kondisi di lokasi shooting yang cukup panas dengan sesekali beristirahat untuk menghemat energi.

“Kadang waktu ketika Koji Fukada duduk gitu tuh, kayak yang, semua ikut senang,  (lega) akhirnya dia duduk,” cerita Sekar.

Teknologi yang digunakan di lokasi sangat maju. Ada sebuah adegan berlari di atas air yang terlihat sangat realistis. Menurut Sekar, Koji membangun sebuah jembatan panjang dari kaca yang dipasangi green screen. Jejeran pemain bahkan sempat menyebut instalasi tersebut dengan sebutan Jembatan Nabi Nuh karena panjangnya semacam membelah laut.

“Pas adegan jatuh pake green screen gitu juga lumayan seru, sih. Instalasinya tuh juga, wow, niat banget, ya,” cerita Sekar.

Film multikultural yang melibatkan tiga kebudayaan yaitu Indonesia, Jepang, dan Aceh sendiri memancing penonton untuk bertanya mengenai kendala yang dihadapi dengan perbedaan budaya tersebut di lapangan. Sekar mengambil contoh hubungan Indonesia (pusat) dengan Aceh dapat dilihat dari relasi tokoh Bu Leni dari Jakarta dan tokoh Ilma yang merupakan orang Aceh. Di lapangan sendiri, meski belum ada bioskop, Aceh sudah terbilang siap dalam distribusi film melalui VCD ataupun YouTube.

Beberapa cerita dalam film pun juga merupakan kisah nyata yang diangkat oleh Koji selama ia berada di Aceh. Misalnya cerita dari Nur, salah seorang figuran yang berperan sebagai seorang supir truk di awal film. Karakter tersebut berhenti mengemudikan truknya di tengah jalan, merasa melihat anak dan istrinya. Hal ini memang dialami oleh Nur sendiri.

Tidak adanya fasilitas gedung bioskop di Aceh menyebabkan “The Man from the Sea” akan sulit dinikmati oleh rakyat Aceh. Sekar berharap film ini bisa tetap dinikmati melalui ruang pemutaran alternatif atau layar tancap.

 

Winona Argavany