Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 memulai hari keempatnya di Jogja National Museum  (30/11) dengan kelas “Mastering Your Film.”

Kelas ini merupakan bagian dari JAFF Education, sebuah program non-pemutaran berbentuk workshop yang berfokus pada perkembangan sinema melalui edukasi tentang beragam aspek dalam belantika perfilman. Program ini adalah wujud tanggung jawab JAFF sebagai festival untuk mengelola kembali kemampuan para sineas demi lahirnya karya-karya film terbaik di kemudian hari.

Workshop pertama bertemakan “Master Class: Mastering Your Film” tersebut diisi oleh Robin Moran, founder dari Focused Equipment, dan Ian Wee, seorang sutradara dan Workflows Consultant dari Singapura.

Robin Moran yang telah cukup lama berkecimpung dan memenangkan banyak penghargaan dalam dunia film, video klip, dan iklan. Ia mendirikan Focused Equipment pada tahun 2009 di Jakarta sebagai sebuah perusahaan penyewaan berbagai alat pembuatan film yang sangat memperhatikan ketrampilan penggunaan alat, alur kerja efektif, dan keamanan aset digital.

Ian Wee sendiri adalah seorang sutradara yang dianugerahi kemampuan dari segi kreativitas dan teknis. Ia pernah menjabat sebagai Managing Director di Widescreen Media Pte Ltd yang didirikan bersama rekan – rekannya dan membantu mempelopori produksi Stereoscopic 3D di Asia.

Kedua pembicara ini memberikan banyak wawasan tentang berbagai aspek teknis dalam pembuatan film hingga sedetail mungkin. Workshop ini dimoderatori oleh Greg Arya yang pernah menjadi editor film “Siti” (2014), film yang memenangkan piala Citra sebagai film terbaik pada Festival Film Indonesia 2015.

“Saya berharap, kita semua belajar disini. Ketika (dalam) proses syuting, kamu memberikan segenap hatimu untuk produksi sebuah film, entah itu film pendek dan dokumenter. Tetapi saat post-production, tiba-tiba resolusinya jelek, warnanya mati, sampai (hasil) compress nya aneh. Masalahnya ada pada konsistensi dan standarisasi,” jelas Robin kepada 23 peserta yang hadir mengikuti workshop tersebut.

Materi awal yang disampaikan adalah tentang spesifikasi beberapa media untuk pemutaran film. Perbedaan dan fungsinya masing – masing pun dijelaskan serinci mungkin. Dari mulai frame rate hingga kualitas warna dari berbagai outlet dari mulai DCP, ATSC, DVD MPeg2, Blu-Ray H264, sampai Netflix dan YouTube juga ditampilkan.

Pertimbangan ini perlu diambil sebelum produksi sebuah film dimulai. Tim produksi harus menentukan target film yang dibuat serta menciptakan arus kerja berdasarkan kolaborasi. Bahkan,  pemilihan kamera yang tepat juga menjadi faktor produksi yang penting.

Robin menceritakan pengalamannya bergabung di pertemuan Digital Cinema Society beberapa waktu lalu.

“Distributor sekarang tidak mau menerima master film di bawah kualitas 4K jadinya itu memberikan tantangan untuk mereka (para produser) dalam membuat konten baru yang diharapkan pada sebuah film,” kata Robin.

Robin berharap, seusai kelas yang ia berikan, peserta bisa terhindar dari mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama.

Pembahasan tentang proses codec sebuah file dalam komputer menarik perhatian para peserta dengan beberapa pertanyaan yang diajukan seperti bagaimana sebuah film klasik dijadikan sesuai kualitas film masa kini.

“Proses untuk compressing dan decompression itu membutuhkan waktu cukup lama kalau tidak diperhatikan dengan serius,” kata Ian.

Penjelasan tentang penyediaan storage berupa hardisk yang berkualitas untuk kelancaran post-production menutup sesi pertama sebelum jeda istirahat.

Setelah jeda istirahat berakhir, kemudian dilakukan pelatihan beberapa software untuk proses editing film. Sesi workshop ini diadakan dari pukul 10 pagi hingga 5 sore.

 

 

Titus Kurdho