Film “Keluarga Cemara” karya sutradara Yandy Laurens akhirnya bertemu dengan penonton Indonesia untuk pertama kalinya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 di Empire XXI pada Kamis malam (29/11).

Drama keluarga yang berkompetisi di kategori JAFF Indonesian Screen Award ini adalah remake dari sinetron televisi yang sempat populer lebih dari satu dekade lalu. 149 penonton ikut terbuai dengan emosi yang ditata dengan baik oleh Yandy dari awal hingga puncak pemutaran. Setelah pemutaran berlangsung, Yandy beserta produser Anggia Kharisma dan Nirina Zubir yang berperan sebagai Emak hadir di sesi tanya jawab.

“Kami tahu Yandy punya perspektif yang berbeda ketika dia menyutradarai cerita ini. Kami terkejut saat ia memiliki angle yang beda, karena Yandy sendiri belum berkeluarga ketika menciptakan karakter yang ada, ” tutur Anggia.

Film ini menggambarkan ketangguhan sebuah keluarga kecil ketika mereka harus berjuang dan tinggal di desa kecil karena jatuh bangkrut. Namun tak hanya itu, mereka harus menghadapi masalah-masalahyang mengguncang prinsip mereka bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga.

Terbiasa menggarap film pendek serta webseries, Yandy pun dipercayai untuk menyutradarai “Keluarga Cemara” oleh Visinema Pictures. Ini merupakan kesempatan yang tepat baginya untuk memulai debut film panjangnya di industri sinema. Setelah beberapa kali mendapatkan tawaran film panjang, sutradara kelahiran 1989 ini akhirnya mantap menggarap “Keluarga Cemara” di akhir tahun 2016.

“‘Keluarga Cemara’ adalah film drama keluarga dengan value yang bisa kamu pegang,” jelas Yandy.

“Keluarga Cemara” menjaga alur cerita dengan baik sehingga membuat penonton bisa tertawa dengan lepas kemudian meneteskan air mata ketika menyaksikan kehidupan Abah, Emak dan anak-anaknya. Pengemasan cerita yang ringan membuat penonton menjadi nyaman dan terbawa suasana.

Sukma Hanifani, salah seorang penonton “Keluarga Cemara” di JAFF, mengatakan bahwa film ini memiliki pesan yang positif untuk penontonnya.

“Film ‘Keluarga Cemara’ mengajarkan mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat kita untuk bertumbuh bahwa ketika hari ini kita salah, kita masih punya waktu untuk memperbaiki karena banyak orang yang selalu berusaha tampak kuat dan mandiri didepan keluarganya,” cerita Sukma.

Anggia mengatakan bahwa film ini bisa menghadirkan rasa yang hangat dan bisa membuka alternatif film di awal tahun 2019.

“Terimakasih untuk JAFF yang sudah memberikan ruang untuk memutarkan film ini, semoga ini bisa menjadi harta yg berharga bagi keluarga kami,” tutup Anggia.

 

 

Dwi Atika Nurjanah