Menelusuri sejarah sinema selalu menjadi tahap yang menantang karena pergerakannya yang pasang surut. Film dokumenter berjudul “Golden Memories” yang ditayangkan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) di hari Jumat (30/11) adalah usaha dari Mahardhika Yudha, Afrian Purnama, dan Syaiful Anwar yang tergabung dalam Milisi Film untuk menapaki jejak sejarah awal mula home cinema di Indonesia.

Perjalanan tersebut dimulai dengan sekelompok pemuda dari Forum Lenteng yang tengah berusaha menemui Rusdy Attamini, seorang mantan pilot yang aktif menjadi praktisi home cinema sejak era 60an. Film berdurasi 120 menit ini membawa penontonnya melewati sisa-sisa kejayaan pabrik gula Jatipiring dari pelosok kota Cirebon hingga Amsterdam untuk menemui anak-anak dari keluarga Kwee Zwan Liang. Kwee Zwan adalah seorang warga negara Indonesia mantan pemilik perkebunan tebu yang memiliki kumpulan home cinemas sejak masa kolonial Belanda.

“Kami selalu berusaha mencoba menggali bagian-bagian kecil dari sejarah sinema itu sendiri. Seperti home movies itu sendiri kan adalah masuknya sejarah kecil diluar dari sejarah mapan yang kita tahu, seperti Krueger dan banyaklah sutradara-sutradara awal film,” kata Afrian selaku co-sutradara.

Hal tersebutlah yang mendorong Forum Lenteng untuk mengangkat sejarah home cinema dalam film dokumenter ini. “Golden Memories” merupakan bagian dari program Asian Perspectives, salah satu program JAFF ke-13 yang menyoroti film-film Asia yang memberikan pandangan baru pada sejarah maupun kehidupan masyarakat Asia.

Film dokumenter “Golden Memories” ini menjadi pengingat bahwa masih banyak sejarah Indonesia mengalami krisis pengarsipan dan begitu banyak elemen yang belum tergali dan terdokumentasikan dengan baik. Seiring berjalan waktu, pelaku-pelaku sejarah akan beranjak tua dan lama-kelamaan semakin berkurang. Pada saat itulah kita menyadari pentingnya pengarsipan sejarah film-film dokumenter seperti “Golden Memories.”

 

 

Dira Patria