Film “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja” adalah sebuah karya Garin Nugroho yang bercerita soal kehidupan di tanah Papua. Namun, Garin sama sekali tidak menceritakan  pergulatan konflik atau bahkan kekayaan alam sebagai topik-topik yang selama ini sering terlintas di pikiran orang banyak ketika mendengar soal Papua.  Seperti biasa, film Garin Nugroho bukan film bertutur. Film ini syarat akan mosaik simbol-simbol yang dirangkai bersama potongan narasi tokoh-tokohnya.

Masuk di dalam kategori Focus on Garin Nugroho di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13, film ini cukup menarik perhatian penonton saat diputar di Empire XXI di hari Kamis (29/11). Film dibuka dengan footage mengenai kegiatan para aktivis Papua Barat Merdeka. Seiring cerita berjalan, film ini pun memfokuskan diri untuk bercerita tentang Arnold, seorang remaja usia 15 tahun yang menyimpan perasaan terhadap seorang perempuan (Lulu Tobing) yang ia temui di pelabuhan.

Garin beranggapan cerita yang ia buat memiliki satu-kesatuan. Dalam kasus “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja,” sutradara kawakan itu memiliki alasannya sendiri dalam menyandingkan kisah remaja yang akil baligh dan konflik di Papua dalam satu keutuhan film. 

“Dari akil baligh itu banyak tema yang bisa direpresentasikan, pilihan cerita yang bagus, seperti Papua saat itu yang mencari identitas dan perpindahan menuju Papua Barat Merdeka,” ujar Garin.

Bagi Garin, semua filmnya layaknya pohon yang ia tanam. Ketika Garin membuat sebuah film, maka ia akan mengulang dari nol lagi karena film yang ia buat memiliki cerita dan karakter yang begitu berbeda. Apalagi bila ditilik selama 33 tahun ia berkarya di industri sinema. Film “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja” kental akan hasrat yang menggulirkan berbagai kejadian di dalam hidup Arnold. Di saat yang bersamaan, Garin juga berusaha menggambarkan berbagai perubahan dan pergulatan hidup yang terjadi di Papua.

Film yang sarat dengan nilai-nilai Kristiani ini memiliki kisah produksi yang menarik. Ternyata, awalnya Garin bercerita soal santri muda yang ingin mencium seorang perempuan yang ia lihat di sebuah pesantren. Namun, karena bertentangan dengan nilai-nilai agama Islam, gagasan tersebut sulit diwujudkan hingga akhirnya Garin berpindah fokus.

“Produser langsung menolak, kalau ditolak nggak ada uang, ngga ada film. Akhirnya saya mengganti karakter tokohnya menjadi beragama Katolik, karena ciuman dalam agama itu berarti penghianatan dan kesetiaan,” cerita Garin.

Menonton film Garin senantiasa menjadi tantangan, sebab penonton diberi tugas memahami cerita dengan menyusun sendiri potongan-potongan antropologi dan etnografi yang Garin tawarkan. Garin selalu menjanjikan perjalanan eksplorasi seni dan identitas dalam setiap karyanya. Sebagai sebuah cerita tentang menjadi dewasa, “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja” adalah karya yang tidak lekang dimakan masa.

  

Dwi Atika Nurjanah