‘Iti, Tomari Dhaka’, judul lain dari film ‘Sincerely Yours, Dhaka’, merupakan sebuah film antologi yang mengangkat cerita tentang perjalanan-perjalanan kehidupan yang cukup liar di ibu kota Bangladesh, Dhaka. Berfokus pada kehidupan tersembunyi di tepian kota Dhaka, film ini menampilkan sebelas buah cerita pendek yang dimulai dari seorang pemain figuran yang rela melakukan apapun agar dapat menjadi seorang bintang, dua orang gadis yang berusaha mati-matian agar dapat mencicipi minuman keras di sebuah kota di mana alkohol dilarang, hingga tindakan pembunuhan karena uang. Dibuat oleh sebelas sutradara Bangladesh yang berbeda, film ini bak sebuah surat cinta yang mereka ‘tulis’ kepada si ‘tokoh utama’, Kota Dhaka.

Penayangan perdana dunia dari film ini diputar pada Busan International Film Festival 2018. Sebagai film antologi pertama Bangladesh, Sincerely Yours, Dhaka lahir dari usaha Bangladesh untuk mencari talenta dari generasi berikutnya dalam dunia film. Abu Shahed Emon, sebagai creative producer, memilih kesebelas sutradara dalam film ini berdasarkan karya-karya mereka sebelumnya. Kesebelas sutradara tersebut adalah Nuhash Humayun, Syed Ahmed Shawki, Rahat Rahman Joy, M.D. Robiul Alam, Golam Kibria Farooki, Mir Mukarram Hossain, Tanvir Ahsan, Mahmudul Islam, Abdullah Al Noor, Krishnendu Chattopadhyay, dan Syed Saleh Ahmed Sobhan. Angka sebelas sendiri datang dari sebuah film tahun 1972, ‘The 11’, yang pada saat itu merupakan film feature pertama Bangladesh yang berfokus pada perang kemerdekaan negara tersebut. Selain itu, angka ini juga dipilih berdasarkan jumlah pemain dalam olahraga paling populer di Bangladesh, cricket dan sepak bola.

Sincerely Yours, Dhaka mencoba untuk menangkap sisi-sisi Kota Dhaka yang jarang terungkap. Meski dengan sebuah film saja akan sangat sulit untuk merangkum dan menunjukkan semua sisi pada sebuah kota, cerita-cerita yang diangkat dalam film dapat dengan baik menggambarkan kenyataan budaya Kota Dhaka, terutama di daerah pinggiran kota. Sebuah kota yang terlihat menyenangkan, penuh kepedulian, dan kasih sayang pada permukaannya, ternyata dapat menjadi begitu brutal dan berbahaya sekaligus. Dalam durasi 134 menit, penonton berhasil dibawa untuk menyelami alur emosi dalam film yang dimulai dari sisi terang ‘permukaan’ dengan pengemasan cerita yang menyenangkan juga mengharukan, dan semakin memperlihatkan kegelapan sisi kota hingga ke sisi tergelap pada cerita terakhir yang diangkat. Bagaimana para sutradara mencoba mengangkat cerita-cerita marginal mengenai Kota Dhaka melalui sudut pandangnya masing-masing, seolah menjadi surat cinta tersendiri dalam dedikasi usaha dan kepedulian yang amat besar untuk mengenali dan memahami ibu kota mereka lebih dalam.

 

Winona Argavany