Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang ke-13 tahun ini menyorot pentingnya soal restorasi film klasik melalui program khusus Layar Klasik yang digawangi oleh programmer Lisabona Rahman.

Dalam catatan programnya, Lisa menyebut bahwa kesempatan menonton film klasik Asia lebih sulit terjadi di wilayah Asia. Ini berbanding terbalik dengan nasib film klasik barat yang banyak didapati di berbagai kota di Eropa atau Amerika Utara. Sebagai satu dari hanya segelintir orang yang memiliki pemahaman dan kemampuan mendalam untuk melakukan restorasi film, maka Lisa adalah sosok yang tepat dalam mewujudkan program ini menjadi nyata di JAFF 13.

Tepat di hari pertama festival dimulai, film “Pagar Kawat Berduri” karya Asrul Sani menjadi nomor pertama yang mengawali program Layar Klasik tersebut. Lebih dari 60 penonton meramaikan Empire XXI sejak pukul sembilan pagi, tepat satu jam sebelum film dimulai.

Film berdurasi 123 menit ini menyuguhkan cerita di masa perjuangan ketika rakyat Indonesia berusaha membebaskan diri dari kolonial Belanda. Rangkaian percakapan yang cerdas mendominasi film ini. Meski dilatarbelakangi perang melawan Belanda, tidak ada adegan heroisme pertempuran. Yang ada hanya cita-cita dan juga cinta.

Film ini sempat dikecam habis ketika pertama kali rilis di tahun 1961 karena dianggap gagal menggambarkan orang kulit putih sebagai sosok penjajah yang kejam. Karena kontroversi ini, “Pagar Kawat Berduri” hanya berhasil tayang selama tiga hari di bioskop. Bahkan Presiden Soekarno pun tak sanggup mengembalikan film ini ke bioskop dan sejak itulah karya gemilang ini terkubur.

Di akhir penayangan, Lisa menayangkan video pendek yang menjelaskan perbedaan kualitas film sebelum dan sesudah direstorasi. Proses restorasi berhasil menghilangkan goresan dan debu yang secara perlahan merusak kualitas film, mengembalikan kualitas suara dan bahkan menyatukan bagian film yang sudah robek.

“Bahkan bagian judul film saja kalau kalian perhatikan, terkesan baru dan modern. Hal ini karena bagian judul film sudah benar-benar rusak dan tidak bisa diperbaiki,” kata Lisa.

Menurut Lisa, salah satu kesulitan dalam menggarap proses restorasi dari copy film yang tersisa adalah seluruh kru yang pernah bekerja untuk “Pagar Kawat Berduri” sudah berpulang, sehingga tidak bisa ada yang bisa ikut berperan dalam proses ini.

Ketua Bidang Apresiasi, Tenaga Perfilman dan Pengarsipan Pusbang, M. Sanggupri, mengatakan bahwa film klasik memiliki muatan sejarah dan kebudayaan Indonesia yang berharga.

            “Film klasik adalah bentuk pendidikan yang bermanfaat untuk ditonton dan diapresiasi oleh anak-anak kita dan generasi-generasi setelahnya. Dengan adanya proses restorasi, umur film dan sejarah bangsa pun akan semakin panjang,” ujarnya.

Selain “Pagar Kawat Berduri” terdapat dua film lain yang telah direstorasi, yakni “Darah dan Doa” serta “Bintang Kecil.”

Menurut Rizka  Fitri Akbar selaku project director Render Digital Indonesia, ada empat buah copy film yang dijadikan material untuk restorasi film “Pagar Kawat Berduri.” Dengan total 170.000 frame, proses restorasi dilakukan frame by frame baik secara fisik maupun digital. Tantangan yang dihadapi pun bukan hanya dari jumlah frame yang bombastis, tetapi source yang sangat terbatas hingga keadaan fisik asli dari copy film yang terancam.

“Ada sebuah frame yang menampilkan seorang officer Belanda memiliki gambar yang terpencar sama sekali, bahkan beberapa reel emulsinya sudah terangkat,” jelasnya.

Berawal dari tampilan visual yang kurang enak ditonton, restorasi film berhasil menangkap ulang gambar-gambar dalam film dengan baik dalam sentuhan akhir berwarna hitam putih. Warna awal coklat kuning yang dipenuhi cacat garis dan bintik, bahkan dengan audio asli yang juga hampir tidak terdengar kini menjadi jauh lebih mulus dan lebih layak tonton.

“Restorasi dilakukan dengan penuh perjuangan dan dilaksanakan dengan hati. Kalau nggak dengan hati, pasti akan bosen banget,” tutur Rizka seraya tertawa.

Lisa mengatakan bahwa film-film yang bisa direstorasi dengan menggunakan uang publik tentunya harus menyangkut hajat hidup orang banyak.

“Jadi film yang dipilih menjadi subjek restorasi pasti adalah film yang disepakati penting untuk kesenian dan kebudayaan film. Selain itu tingkat kepunahan atau kelangkaan film tersebut dapat dibuktikan. Prioritas ini sendiri akan terus terperbaharui seiring berjalannya waktu dan penyesuaian terhadap perubahan kondisi,” kata Lisa.

Ivani, salah satu mahasiswa Universitas Padjajaran yang menghadiri pemutaran “Pagar Kawat Berduri” mengatakan ia hadir karena sangat tertarik untuk mempelajari karya-karya Asrul Sani.

“(Saat nonton film ini) Aku ngerasa kayak nonton film-film Hollywood klasik yang udah di restorasi, kayak ‘Citizen Kane’, udah bagus, udah alus,” ucap Ivani. “Ya, emang ceritanya Asrul Sani menarik semua, sih, jadi puas ,Penonton lain bernama Astrid berpendapat bahwa pengolahan naskah hingga pengambilan gambar “Pagar Kawat Berduri” tergolong maju pada masanya, sehingga ini menandakan masa tersebut sebagai masa keemasan perfilman Indonesia.

“Proses restorasi yang luar biasa sulit, akses untuk menonton film yang tidak mudah didapat, serta telah berpulangnya seluruh kru yang bermain dalam film, adalah hal-hal yang menjadikan film ini sangat berharga. Kesadaran akan hal-hal seperti inilah yang harus ditumbuhkan di kalangan masyarakat agar dapat lebih mengapresiasi sebuah film,” kata Astrid.

 

Winona Argavany