Besar dan tinggal di perumahan Housing & Development Board yang sangat dekat dengan danau bekas tambang bernama Little Guilin, membuat Nicole Midori Woodford terinspirasi untuk membuat film Permanent Resident. Berdurasi 20 menit, film karya sutradara berkebangsaan Singapura ini pun mampu membuat emosi para penonton terkuras dan berusaha mencari-cari makna yang ada di dalamnya.

Little Guilin adalah danau yang terbentuk dari bekas tambang batu granit. Memiliki kemiripan dengan formasi batuan granit di Guilin, Cina. Membuatnya juga dikenal sebagai Little Guilin atau Xiao Guilin.

Film ini sendiri, mengisahkan kehidupan seorang perempuan paruh baya bernama Madam Teo yang tinggal di sebuah apartemen kecil dekat Little Guilin bersama anak laki-laki dan ibunya. Berpura-pura menjadi pembeli hunian mewah yang pada kenyataannya hanyalah seorang pegawai money changer. Mencoba menipu banyak makelar rumah yang ia kunjungi hingga mencuri barang dari rumah-rumah itu. Madam Teo pun menyalurkan rasa obsesi akan kehangatan keluarga sesungguhnya melalui barang curiannya itu.

Mengunjungi tiap kondominium sudah menjadi rutinitasnya. Madam Teo tidak pernah satu kalipun melewatkan momen untuk menatap ke arah Little Gualin dari setiap jendela hunian yang ia kunjungi. Obsesinya kian memuncak ketika ia memutuskan untuk jalan-jalan ke tengah danau bekas tambang dan membenamkan dirinya ke dalam air danau itu.

Film yang didasarkan pada pengalaman dan pengamatan pribadi wanita lulusan Berlinale Talents dan Asian Film Academy, tentang orang Singapura yang memiliki obsesi ekstrim untuk memiliki rumah karena sedikitnya ruang hunian yang terjangkau. Membuat Nicole menggarap film ini berdasarkan perspektifnya terhadap fenomena tersebut. Hal itu  juga bukan semata-mata dari apa yang dirasakan dirinya saja tetapi juga karena pengalaman ibunya yang merupakan agen real estate.

Permanent Resident membuat penontonnya akan berpikir bahwa orang-orang di zaman sekarang telah kehilangan akal. Ambisi dalam mendapatkan sesuatu tanpa melihat kemampuan yang dimilikinya. Film ini pun memvisualisasikan dengan baik masyarakat era ini dengan tokoh seperti Madam Teo.

 

Dwi Atika Nurjanah