Tang Wan Xin adalah sutradara sekaligus penulis naskah White Carnations berkebangsaan Singapura. Film ini menjadi tesis kelulusannya di LASALLE College of Arts. Memainkan kegelisahan yang tersirat dalam budaya Singapura dan Cina, di mana hubungan orang tua dipengaruhi oleh pemikiran konfusianisme, ajaran filsafat Tiongkok yang mengajarkan peningkatan moral dan etika manusia.

Menceritakan perjuangan seorang ibu untuk anak lelakinya yang berkebutuhan khusus agar tetap bisa belajar di sekolah normal dan diterima oleh masyarakat. Rasa frustasi semakin bertambah tak hanya sekedar merawat anaknya saja, tetapi juga ego dirinya yang menganggap anaknya normal seperti lainnya. Mencoba melakukan yang terbaik untuk anaknya dan melawan kebencian diri terhadap anaknya.

Tang Wan Xin berusaha mengungkap kebenaran yang seringkali tertutup oleh realita. Ia memiliki minat pada topik-topik dari isu terkini dan karakter yang tidak biasa. Penggambaran tokoh utama yang frustasi terhadap seorang anak berkebutuhan khusus membuat emosi penonton semakin terpacu saat menontonnya. Sulit untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran sang tokoh utama. Tetapi kita dapat tahu bahwa cintanya, cinta orang tua itu tanpa batas.

White Carnations atau anyelir secara harfiah digambarkan sebagai bunga sebagian dewa atau bunga cinta. Umumnya digunakan sebagai media untuk mengekspresikan beberapa perasaan. Simbol cinta yang murni, perasaan tidak bersalah, kesetiaan, keberuntungan, dan isyarat rasa syukur yang mendalam maupun kematian.

Memvisualkan adegan sang ibu yang sedang merangkai tumpukan bunga kertas anyelir. Seperti bunga kertas anyelir, cinta yang telah dibuat tidak dapat diperbaiki dan adegan ini menandai titik tanpa harapan. Turun ke dalam kemungkinan gelap dan tak tertulis sebagai orang tua. Pendekatan yang hati-hati dan disengaja, menciptakan ketegangan untuk menarik subjek yang tabu dengan penuh percaya diri.

Film ini memberikan ruang kepada penikmatnya untuk merepresentasikan sendiri bagaimana sikap tokoh utama yang digambarkan dalam waktu 11 menit. Akhir cerita yang cukup menggelitik pikiran dan emosi.

 

Dwi Atika Nurjanah