Film “Batch ’81” menjadi pembuka rangkaian film yang akan ditayangkan pada hari ketiga perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-13 di Empire XXI. Film ini merupakan salah satu film andalan dalam program Layar Klasik, salah satu program JAFF yang memutarkan film-film klasik dan berkualitas dari seluruh penjuru Asia.

“Batch ’81” merupakan film dari Filipina berdurasi 100 menit karya sutradara Mike de Leon. Film keluaran tahun 1982 ini bercerita mengenai sekelompok mahasiswa yang dipimpin oleh karakter Sid Lucero (Mark Gil) dalam menjalani proses inisiasi fraternity Alpha Kappa Omega, sebuah perkumpulan persaudaraan sekolah terkemuka di Filipina. Mereka harus menghadapi serangkaian tantangan yang menguji mental dan fisik mereka; selain permasalahan inisiasi, mereka juga dihadapkan dengan konflik permusuhan antar perkumpulan persaudaraan.

Saat ditanya mengapa film Batch ’81 terpilih dalam program Layar Klasik,

Lisabona Rahman selaku programmer Layar Klasik mengatakan bahwa ia memilih “Batch ’81” karena ini adalah salah satu film yang bukan hanya prestasinya banyak dan didukung kemunculannya di forum internasional. Banyak sineas, akademisi dan penggemar film di Filipina sangat merekomendasikan film ini.

“Dari kombinasi pengetahuan kita mengenai apa yang dapat penghargaan di masa lalu, baik dari institusi maupun dari penonton dari dalam negeri, dari Asia sendiri, maupun internasional dan rekomendasi-rekomendasi dari teman-teman yang sudah menonton, apabila kita gabung, puzzle-nya menjadi lengkap,” kata Lisa.

Norman Yusoff, salah satu penonton film Batch ’81 yang juga merupakan seorang pengajar di Universiti Teknologi MARA, Malaysia, berpendapat bahwa “Batch ’81” sangat menarik dan kuat. Isu yang dibawa sangatlah kuat dan relevan dengan kondisi politik di Filipina tahun 81.

“Batch ’81” merupakan salah satu film yang diusung program Layar Klasik di JAFF ke-13. Melalui program Layar Klasik, Lisa berharap program ini dapat menjadi sarana pecinta film Indonesia untuk mengenal film-film klasik Asia yang berkualitas, dan memunculkan kembali film-film bagus yang telah lama tenggelam.

Dira Patria