Saat ini, pembagian peran berdasarkan gender kerap kali dilekatkan dengan dikotomi kerja publik-domestik dan rasional-emosi. Permasalahan tersebut sangat berbeda jika dibandingkan dengan berabad-abad silam, tepatnya abad ke-6 M, yang dapat dilihat dalam film Sakhisona. Sakhisona merupakan cerita rakyat yang masih dinyanyikan oleh para musisi lokal hingga sekarang. Sakhisona sendiri adalah adalah nama anak bukit yang terletak di dekat Mogulmari, Bengal Barat (India). Dari film yang disutradarai Prantik Basu ini, bisa diamati bahwa sebelumnya manusia tidak melakukan pembagian peran domestik maupun publik.

Dalam film berdurasi 26 menit ini, ada adegan yang menunjukkan Sakhisona sedang berburu di hutan, sedangkan sang suami, Akhirmani, memasak di dapur. Ada kalanya juga mereka berdua sama-sama mencari makanan di hutan. Tugas-tugas yang dikerjakan pun tidak terlihat memperoleh respons buruk dari masing-masing pasangan.

Hal tersebut didukung oleh Friedrich Engels dalam bukunya The Origin of Family Private Property and The State.  Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa peran domestik memiliki sejarah yang panjang dan hampir berada di semua level masyarakat, bukan hanya pada level keluarga.

Di era savages ada tiga tahapan, yaitu lower, middle, dan upper. Pada lower stage, manusia bersama-sama mencari makanan, baik laki-laki maupun perempuan. Kemudian pada middle stage manusia sudah mengetahui cara menangkap ikan, lalu pada upper stage manusia sudah mulai berburu. Pada level inilah  sudah ada pembagian peran berdasarkan jenis kelamin, perempuan menjaga tempat tinggal sedangkan laki-laki pergi ke hutan untuk berburu. Lebih jauh lagi, manusia masuk dalam zaman barbarians, yang di zaman ini keramik dan besi sudah mulai ditemukan dan sudah ada konsep tentang keluarga sebagai pelindung properti.

Sakhisona serta pasangannya juga tidak dilekatkan dengan sifat-sifat maskulin dan feminin. Jika dibandingkan dengan sekarang,  kerja-kerja di ruang publik sering kali diidentikkan dengan kerja yang maskulin dan kerja di ruang domestik dilekatkan dengan kerja yang feminin, seperti membesarkan anak, merawat dan mengurus rumah. Bahkan, profesi sebagai perawat pun dilekatkan dengan pekerjaan perempuan, meskipun pekerjaan tersebut berada di ruang publik.

Konstruksi perempuan cantik adalah perempuan yang memiliki rambut panjang dipatahkan pula dalam film yang diangkat berdasarkan penggalian arkeologi ini. Sakhisona yang awalnya berambut panjang ditunjukkan memotong sendiri rambutnya. Seolah-olah ia memiliki pendirian bahwa mahkota perempuan tidak melulu soal rambut panjang.

Selain itu, film yang pertama kali dirilis pada 25 Januari 2017 ini juga mengingatkan penonton betapa pentingnya memiliki sikap dan sifat yang welas asih, kebaikan dan ketulusan hati, serta menjaga lingkungan alam semesta. Harmoni antara alam dan manusia mendorong terjadinya kesinambungan ontologis antara manusia dan alam.

 

Nizmi Nasution