Golden Memories: Petite Histoire of Indonesian Cinema merupakan film feature-dokumenter hasil penelitian sejarah sinema keluarga produksi dokumenter pertama Milisifilem. Platform produksi dan pembelajaran budaya gambar bergerak yang diinisiasi oleh Forum Lenteng. Film yang mencoba menelusuri jejak-jejak sejarah sinema Indonesia yang tidak lepas dari kehadiran sinema keluarga. Tiga orang sineas asal Indonesia berusaha meneliti hal itu. Fokus pada sinema Kwee Zwan Liang dan sinema Rusdy Attamimi membawa Mahardika Yudha, Afrian Purnama, dan Syaiful Anwar pergi jauh dari Jakarta ke Amsterdam, hingga balik lagi ke Jatipiring.

Kwee Zwan Liang adalah mantan kepala laboratorium pabrik gula di Jatipiring. Ia telah membuat film sejak 1926 yang karya-karyanya diarsipkan di EYE Filmmuseum Amsterdam. Tinggal dan besar di Indonesia, ia telah menekuni sinema keluarga lebih dari sepuluh tahun serta memiliki lebih dari 12 jam rekaman. Karyanya dinilai memiliki kekuatan teknis yang tinggi. Ketiga sineas ini pun pergi ke Belanda demi mengunjungi anak-anak Kwee Zwan Liang, antara lain Kwee Kiem Han, Kwee Kiem King, Evie Kurniawati serta cucunya Christina Murwindah. Di film dokumenter ini terlihat Kwee Kiem Han menunjukkan kamera pertama yang digunakan mendiang Ayahnya untuk merekam pengalaman mereka, yaitu kamera Cine Kodak model B legendaris yang dibeli di Cirebon. Masih tersimpan rapi dan bisa dioperasikan walau umurnya sudah 100 tahun.

Tak hanya tentang sinema Kwee saja tetapi film ini juga menceritakan sinema Rusdy Attamimi. Seorang mantan pilot yang sejak tahun 1960-an mendokumentasikan peristiwa-peristiwa di sekitarnya menggunakan kamera 8mm. Keduanya merepresentasikan dua periode dalam sejarah Indonesia, yaitu sebelum dan sesudah kemerdekaan.

Dikemas dengan narasi serta rangkaian potongan seluloid, membawa penonton kembali mengulang ke masa lalu yang pada dasarnya mereka tidak pernah berada pada situasi saat itu. Seperti masuk ke  dimensi waktu, menjadi penjelajah waktu.

Sinema keluarga ada karena orang-orang seperti Kwee dan Rusdy ingin merekam sesuatu yang masih bisa dilihat dan diingat di masa depan atau sekadar ditinggalkan kepada orang tersayang agar bisa menyaksikan momen-momen di dalamnya. Apa yang telah ditangkap kamera di masa lalu bertumbuh secara alamiah, dari satu teknologi ke teknologi lain, dari satu kultur ke kultur lain, sehingga ada hal yang baru.

Pada era ini, generasi muda dengan mudah membuat sinemanya sendiri, tetapi sinema yang dimaksud adalah lewat media sosial pribadi untuk dibagi secara umum kepada khalayak. Berbeda dengan sinema keluarga yang dibuat hanya untuk konsumsi pribadi. Selama 121 menit, penonton tidak hanya diberikan pengetahuan mengenai sejarah sinema Indonesia tetapi juga perasaan hangat akan sinema keluarga.

Sinema keluarga tidak hanya pada persoalan kultur sinema yang dibangun oleh publik, tetapi juga estetika serta ontologi mengenai apa itu sinema keluarga dari masa ke masa. Sinema amatir dan sinema keluarga membawa kita ke ruang intim yang jujur dan alamiah. Dibuat oleh imaji-imaji bukan sekedar potongan seluloid. Imaji itu merupakan kenyataan, mesti hanya berbentuk dua dimensi, tetapi film itu bergerak layaknya tiga dimensi yang dapat dihayati sebagai kenyataan. (Dwi Atika Nurjanah)