Hari ketiga perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018 di Empire XXI (29/11) dimulai dengan pemutaran film dari program Focus On Garin Nugroho. Film yang diputar kali ini adalah “Mata Tertutup” yang mengisahkan tentang tiga cerita kehidupan remaja yang berhadapan dengan realita persoalan radikalisme agama di Indonesia.

Ketika pertama kali rilis di tahun 2012, film ini sempat kesulitan untuk ditayangkan di layar bioskop karena isu yang diangkat cukup sensitif. Namun, penonton di JAFF pagi itu tetap antusias untuk menikmati salah satu karya terbaik Garin tersebut.

Film ini menyajikan ketiga sudut pandang remaja tersebut dalam menjalani pemahaman yang asing bagi mereka untuk mengatasi atau seakan kabur dari persoalan kehidupan masing – masing.

Ada Jabir, remaja pendiam yang sedang terdesak dengan kondisi ekonomi keluarga. Dia terpaksa meninggalkan pendidikan untuk sekedar mencari makan sehari-hari. Rasa cintanya begitu besar kepada ibunya yang masih membanting tulang di usia tua. Ajakan dari Negara Islam Indonesia (NII) untuk bergabung bersama mereka demi kebahagiaannya dan ibunya kelak di sangat menarik perhatiannya.

Lalu Rima, remaja idealis dan peduli dengan keadaan masyarakat miskin dan kesusahan. Ia tidak puas dengan berbagai kebijakan pemerintah sehingga merasa bahwa kebijakan khilafah Islamiyah dari NII merupakan solusi dari persoalan itu semua. Kemudian ada Aini yang tidak memiliki kebebasan menjalani masa remaja karena ibunya yang sangat protektif. Aini pun mencari pelarian kabur dari rumah untuk bergabung dengan NII.

Sepanjang film, hadirin begitu serius mengikuti alur cerita yang bergantian membahas ketiga remaja tersebut dan orang-orang di sekitar mereka. Garin berhasil membuat mata para penonton untuk terus melekat menatap layar bioskop. Tingginya apresiasi penonton ditandai dengan antusiasme penonton yang banyak bertanya dalam sesi bincang dengan Eka Nusa Pertiwi dan Kedung Darma, pemeran Rima dan Ustadz Juki di “Mata Tertutup.”

Menurut Eka, pembuatan film “Mata Tertutup” tidak menggunakan skenario dan semua adegan alami dilakukan oleh para pemeran. Pada saat pengambilan gambar, sebagian besar pemerannya masih berstatus amatir. Hanya Jajang C. Noer yang memainkan karakter Ibu Aini yang profesional. Kemampuan akting mereka terbentuk perlahan dengan latihan yang rutin dan riset yang mendalam.

“Ini adalah film pertama saya, penampilan debut saya langsung disutradarai idola saya Garin Nugroho, tanpa skrip, harus memahami langsung dari biografi orang aslinya.” ujar Eka.

Tak adanya skenario menyebabkan jajaran aktor memiliki keterbatasan pemahaman terhadap cerita, tapi Kedung menjelaskan bahwa mereka dibekali pelatihan soal ekspresi dan pelafalan untuk membantu penampilan.

“Kekurangan justru bisa dijadikan kelebihan, terbatasnya pemahaman kami dari tidak adanya script justru membuat kami langsung belajar dari mulai ekspresi wajah hingga pelafalan ayat langsung ke eks JI (Jamaah Islamiyah) yang hadir di lokasi, sangat membantu untuk lebih mendalami karakter.” jelas Kedung.

Kemampuan Garin dalam mengatur para pemerannya untuk berakting dalam film Mata Tertutup sudah sangat teruji karena ia berhasil mengatur emosi para pemeran,

“Pernah, saya sempat ngambek karena merasa film ini terlalu serem. Tetapi Mas Garin dengan sabar justru menyuruh saya untuk break syuting dahulu tetapi besoknya tetap harus hadir di lokasi. Kemudian setelah saya siap baru melanjutkan take kembali.” ungkap Eka.

“Mas Garin mengajari saya ini yang pertama kali masuk ke dalam dunia film. Saya benar – benar diajari menjadi aktor bahkan hingga bagaimana saya duduk di set secara sinematik pun diajari.” Kedung menambahkan. 

Begitu banyak pelajaran yang bisa didapatkan dari film ini. Mulai dari pentingnya membangun hubungan komunikasi dengan keluarga hingga menjauhi pemahaman radikalisme yang sangat membahayakan. Kedung yang sempat menjadi seorang santri ikut berbagi kesan setelah bermain di film ini.

“Kalau ingin serius mempelajari agama, jangan setengah-setengah, atau dari internet, dari YouTube. Harus langsung dari tempatnya belajar, di pesantren misalnya.” ujar Kedung.

 Menurut Eka, film “Mata Tertutup” masih relevan hingga kini. 

“Film ini masih sangat kontekstual dengan realitas saat ini. Tidak boleh dibiarkan begitu saja persoalan semacam ini. Jangan berhenti, film ini harus terus diputar,” ujarnya sambil menutup diskusi.

 

 

Titus Kurdho