Siapapun yang bercita-cita menjadi filmmaker dapat mewujudkan mimpinya melalui LA Indie Movie (LAIM) 2019. LAIM bekerja sama dengan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) mengadakan ‘LA Indie Movie Meet Up” di Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum pada Kamis sore (27/11). Acara tersebut  menghadirkan sutradara Ifa Isfansyah, Ismail Basbeth dan Adhyatmika. Ketiga sineas ini akan bertindak sebagai produser di program LA Indie Movie 2019.

Dipandu oleh Ula Bone, acara dibuka dengan sambutan dari insiator LAIM yaitu Garin Nugroho.  Sebagai seorang inisiator sekaligus sineas, ia melihat pada setiap periode selalu ada hal yang baru.  Tantangan,  cara bertutur,  teknologi,  gagasan yang semua itu dirasakan oleh siapapun khususnya generasi milenial.  Dari dunia perfilman,  hal baru tidak hanya ada pada proses produksi namun juga proses distribusi.  Maka dari itu,  Garin mengajak siapapun untuk ikut tergabung menikmati proses yang baru ini. 

“Selamat datang di periode yang baru ini,  dan saya yakin temen-temen memiliki ide-ide baru dalam bertutur kata yang baru, “sambutnya.

Sebanyak 135 peserta dan 35 media berkumpul untuk berbincang seputar progran LAIM dan pengalaman ketiga  filmmaker tersebut. Memulai karir dari film pendek, ketiga pembicara memiliki proses yang panjang untuk mencapai posisi yang saat ini mereka tempati. 

Adhyatmika yang memulai karirnya sebagai finalis LAIM pada tahun 2009 mengaku memiliki banyak ilmu setelah melalui prosesnya sebagai finalis.  Kesempatan bertemu dengan senior-senior yang sudah berkecimpung di dunia film seperti Ifa dan Garin membuatnya mengerti film dari kacamata lainnya.  Selain itu,  kesempatan film pendeknya diputar di stasiun nasional dan bekerja sama membuat film panjang di bioskop bersama kru yang jauh lebih senior darinya,  adalah keuntungan lainnya dalam mencari ilmu dan pengalaman. 

“Sejak saat itu,  saya menemukan pandangan-pandangan yang berbeda bahkan mengetahui dinamikanya baik up and down dalam membuat film dari senior-senior saya, ” jelas Adhyatmika.

Kisa Ismail Basbeth yang justru tidak lolos di program LAIM membuatnya mencari cara lain dengan menjadi sukarelawan dokumentasi di LAIM. Dengan bisa mewawancaracara orang-orang hebat, Ismail mendapat akses untuk bisa berbincang dan mendapat ilmu dari mereka. 

“Masalahnya banyak orang-orang yang tidak mau keluar dari kelompok mereka.  Tidak mau belajar di luar dan berpikir bahwa tidak bisa berdiskusi dengab orang-orang hebat, padahal mereka manusia biasa.  Kalau masih seperti itu,  lebih baik diam di rumah dan tunggu mati saja,” tukas Ismail.

Ifa mencoba mengidentifikasi npermasalahan dunia film bagi para komunitas atau siapapun yang mau menjadi filmmaker.

“Kebanyakan dari mereka hanya menyukai proses berproduksi membuat film, padahal masih ada proses distribusi dan eksebisinya,” ungkapnya. 

Para peserta antusias saat sesi tanya jawab berlangsung. Abdul Aziz dari Bandung yang menceritakan keinginannya menjadi filmmaker, namun ia tidak begitu paham soal kepenulisan film. Ismail menjelaskan semua kru dalam film adalah filmmaker yang juga harus tahu bagaimana menulis atau membaca sebuah cerita. 

“Coba bayangkan,  jika DOP tidak mengerti cerita,  bagaimana cara dia bisa membuat story board? Atau art director yang ia harus menyediakan semua artistik jika dia tidak bisa mengerti cerita?” Ismail menjelaskan.

Servita selaku koordinator LAIM 2019 menjelaskan mengenai program seru seputar filmmaking dan festival melalui LAIM 2019.  Talent Scouting adalah program pencarian bakat bagi sutradara,  cameramen,  art director,  dan editor melalui audisi yang terbuka di festival MOVIELAND di beberapa kota.  Selain itu,  ada program Story Competition yaitu kompetisi mencari ide cerita yang menarik dan mengusung tema “Viral”. Penulis cerita yang terpilih akan mengikuti script doctor bersama penulis skenario profesional. Kemudian, hasil karya ini akan didistribusikan melalui festival dan digital platform seperti Iflix, Viddsee dan yang lainnya.  

 

Justika Imaniar Hijri