Selain penayangan film-film layar lebar dari sineas ternama, film-film karya komunitas yang termuat di program Layar Komunitas adalah salah satui ciri khas Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Program Forum Komunitas: Layar Komunitas 1 yang berlangsung di Jogja National Museum di hari Rabu siang (28/11) dipadati anggota komunitas dan media yang harus duduk berimpitan hingga di dekat pintu masuk karena tingginya antusiasme.

Beberapa komunitas seperti Njagong Film, Kamar Senyap, Rumaksi Singkawang, Klub Nonton dan Rumah Filem, memadati Layar Komunitas 1 karena deretan film yang diputar cukup menarik perhatian. Salah satunya adalah “Elegi Melodi” karya Jason Iskandar, “Kaporit” karya Andrew Kose, “Tole (Children on the Street)” karya Fuad Hilmi Hirnanda, dan “Loz Jogjakartoz” karya Sidharta. Ada juga sebuah film pendek menarik dari media anak muda Vice, “Bertemu Mamah Dedeh, Sang Mamah Dakwah Indonesia.”

Sidharta yang menghadiri sesi tanya jawab bersama teman-teman dari komunitas film mengatakan bahwa filmnya adalah cerminan dari perasaan dirinya.

“Film ini merepresentasikan rasa jujur saya dalam membuat film apalagi ini berdasarkan pengalaman pribadi dari lingkungan tempat tinggal saya sendiri dan juga karena saya besar dari film Hollywood,” kata Sidharta.

Adanya acara khusus Layar Komunitas di JAFF adalah wujud apresiasi terhadap karya-karya film komunitas dan menayangkan film-film yang bisa memberikan referensi untuk para komunitas film di Indonesia. Layar Komunitas kali ini mencoba untuk merespon perkembangan film pendek Indonesia yang memiliki potensi tinggi. JAFF menyadari pentingnya memberi kesempatan kepada film-film ini dan membawanya ke lingkup yang lebih besar.

Iyustinus dari tim Programmer mengatakan film-film ini adalah representasi kegelisaha dari pembuatnya. “Elegi Melodi” menggambarkan kegelisahan seorang anak yang ibunya meninggal. “Kaporit” menyorot kegelisahan seorang anak dengan orang tuanya. “Tole (Children on the Street)” mewakili kegelisahan anak yang harus membantu perekonomian keluarganya. Sementara itu, “Loz Jogjakartoz” menceritakan kegelisahan Artos karena burung mahalnya yang hilang dan masuk ke dalam sebuah masalah besar.

“Film yang ada di Layar Komunitas bukan berarti tidak bagus, tapi dia punya tempat dan ruang tersendiri berdasarkan bobot filmnya. Film komunitas pun lebih leluasa berkembang dengan jalannya sendiri,” jelas Iyustinus saat menanggapi soal film-film yang masuk kategori Layar Komunitas.

Nada Bonang dari komunitas Klub Nonton Lampung merasa sangat senang datang dan dapat ikut serta dengan perhelatan JAFF ke–13. Apalagi Nada merasa orang-orang di dalam JAFF sangat menyambut dan baik kepada para komunitas film.

“Ikut dalam acara ini membuat kita bisa merasakan langsung bagaimana cara kerja dan ilmunya yang bisa kita bawa pulang dan juga dapat kita terapkan di komunitas film daerah kita,” katanya antusias.

 

Dwi Atika Nurjanah