Memasuki hari ketiga digelarnya Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF)  ke-13 pada Kamis pagi (29/11), program Forum Komunitas kembali diselenggarakan dengan variasi ruang pemutaran alternatif sebagai tema diskusi. Berlokasi di Jogja National Museum (JNM), tepatnya Pendopo Ajiyasa,  sebanyak  43 peserta dari 15 komunitas penggiat film di seluruh Indonesia mengikuti diskusi dengan antusias meskipun cuaca yang mendung dan gerimis. 

Dipandu oleh Arief Akhmad Yani, diskusi seputar pemutaran ini mengundang Lija Anggraheni dari Yayasan Sinema Yogyakarta,  Rachma Safitri dari Kampung Halaman dan Budiman Setiawan dari Sinema Kolekan. Ketiga narasumber tersebut memiliki banyak pengalaman mengenai pemutaran di ruang alternatif. Yayasan Sinema selama ini dikenal dengan program JAFF Movie Night, Open Air Cinema dan juga Layar Komunitas. 

Kampung Halaman memiliki program tahunan yang diadakan setiap tanggal 12 Agustus sebagai peringatan Hari Remaja Internasional. Program ini didasari visi dan misi mereka yang menaruh kepedulian terhadap anak-anak dan remaja berusia 14-24 tahun.

Sedangkan Sinema Kolekan memiliki kegiatan ‘nggoleki’ atau mencari film-film mahasiswa yang masih bingung mencari panggung atau pemutaran untuk karya mereka. Meskipun ruang lingkup Sinema Kolekan masih seputar Jabodetabek, tapi komunitas tersebut memiliki 896 film yang disimpan dan 168 judul yang sudah ditayangkan. 

Banyaknya film yang tidak bisa menembus jaringan bioskop maupun seleksi festival film sebagai dua metode penayangan arus utama menjadikan peran ruang pemutaran alternatif cukup vital terhadap keberlangsungan sebuah komunitas film. Dengan adanya ruang alternatif, akses penonton terhadap film-film yang ada di luar arus utama jadi tetap terjaga.

“Kami mengadakan pemutaran alternatif  untuk ngomporin teman-teman yang masih bingung mau dibawa kemana film mereka.  Selain itu,  masyarakat yang diluar penggiat film juga membutuhkan film sebagai hiburan mereka, ” jelas Lija.

Rachma selaku direktur eksekutif Kampung Halaman menegaskan bahwa esensi dari sebuah kegiatan memutar film adalah tertangkapnya pesan yang ingin disampaikan kepada penonton dan diskusi-diskusi yang nanti akan terjadi.

“Meskipun dengan layar yang kecil dan penonton yang sedikit,  kita mengutamakan pesan film yang disampaikan, meskipun ‘terkadang’ tidak semua filmmaker menyetujui hal tersebut,” kata Rachma. 

Selain memberi ruang terhadap film-film di luar arus utara, Budiman mengatakan bahwa ruang alternatif juga menjadi alternatif dari sistem kuratorial yang selama ini terjadi di bioskop dan festival. Sebagai kurator, Budiman ingin mempertemukan film dengan penontonnya. 

“Soal baik atau buruknya film, biarkan penonton yang menilai.  Asalkan film itu memiliki panggung dan festivalnya mereka sendiri,” jelas Budiman. 

Sesi tanya jawab terlihat sangat menarik karena banyak dari peserta yang saling berbagi pengalaman dan ‘curhat’ tentang kesulitan saat mengadakan pemutaran yang telah dilakukan.

Beberapa peserta diskusi, seperti Tautin dari Kine Club UMM dan Sekar dari Kisikelir Solo, mengaku ingin tahu strategi agar pemutaran ruang alternatif bisa diminati masyarakat dan eksistensi tetap terjaga sampai sekarang. 

“Semangat ‘rock n roll’ harus dilakukan oleh para komunitas. Saling bergotong royong, spontanitas dan kenekatan menjadi kunci keberhasilan dari suatu pemutaran.  Selain itu,  kita harus melibatkan masyarakat sekitar untuk ikut memilih film yg baik untuk mereka,  agar kita mengetahui sasaran film kita,” Rachma menjelaskan. 

Selain menjaga minat komunitas, Lija juga menekankan pentingnya pendanaan bagi teman-teman komunitas. Menurut Lija, pendanaan akan teratasi jika komunitas mengetahui informasi dan bisa menjaga relasi.

“Ada banyak pihak-pihak yang memberikan dana, seperti BEKRAF, Pusbang film, Dinas Kebudayaan. Yang penting kita harus menjaga secara intens relasi yang kita punya,” jelasnya. 

Selain menjaga hubungan dengan pihak-pihak penyandang dana, Budiman menekankan pentingnya menguatkan silaturahmi antar komunitas, misalnya di level universitas.

“Keberhasilan pemutaran juga berada pada pertemanan antar komunitas. Sehingga seluruh pendanaan akan teratasi, ” ujar Budiman di akhir diskusi.

 

Justika Imaniar Hijri