Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kembali dilaksanakan di tahun ini dengan tema “Disruption.” Sebagai festival film internasional terbesar di Indonesia yang sudah berlangsung selama 13 kali, sudah waktunya JAFF membahas posisi sinema Asia dalam masa-masa yang penuh perubahan teknologi ini.

Kuliah umum yang dilaksanakan di Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum, pada hari Rabu (28/11) membahas film Asia di masa era perubahan dengan menghadirkan sejumlah tokoh seperti Benjamin Illos, programmer Cannes Film Festival, Dimas Oky Nugroho sebagai founder Journalism SiPerubahan dan Arturo Guna Priyatna sebagai staf dari Lembaga Sensor Film, dan tidak ketinggalan Budi Irawanto selaku presiden JAFF. Dosen Universitas Kristen Petra Gaston Soehadi berperan sebagai moderator.

Disrupsi yang dimaksud dalam diskusi ini mengacu kepada transformasi dan inovasi digital bagi para sineas sekarang dan masa depan. Sedangkan era disrupsi adalah sebuah era dimana segala sesuatu terjadi secara acak. Suatu hal yang positif maupun negatif dapat menjadi viral hanya dalam hitungan detik.

Budi Irwanto membahas bagaimana kita harus menyikapi perubahan dinamis pada dunia perfilman.

“Sinema selalu memeluk banyak krisis dan perubahan Asia menyaksikan banyak perubahan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang luar biasa,” jelas Budi.

            “Teknologi saat ini semakin distruptif, hal itu yang sangat mempengaruhi pola konsumsi film, baik itu dari penonton maupun sineas,” kata Benjamin.

Menyahuti soal konsumsi tersebut, Dimas pun berbagi hasil riset dari Alvara Research Center tentang perilaku generasi milenial di era disrupsi.

‎”Generasi millenial memiliki beberapa perilaku yaitu, kecanduan internet, mudah berpaling ke lain hati, dompet tipis, kerja cepat kerja cerdas, bisa apa saja, liburan kapan saja dan di mana saja, cuek dengan politik, dan suka berbagi. Cuek dengan politik adalah satu hal yang harus dibenahi oleh generasi muda, apalagi sepertiga penduduk di Indonesia adalah generasi millenial yang nantinya akan memimpin negeri ini,” tutur Dimas.

Kuliah umum yang dimulai sejak pukul 10.20 WIB berlangsung dengan santai. Audiens sangat antusias dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada para pemateri. Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa banyak pihak yang mengambil keuntungan dari era disrupsi. Hal ini disebabkan setiap orang mendapat tuntutan untuk bersikap dan mengambil pilihan untuk bertahan atau tergilas oleh cepatnya perubahan ini.

“Aku datang kesini karena ingin belajar tentang film. Materi Dimas di kuliah ini sangat mencerminkan generasi millenial yang katanya di tahun mendatang akan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru,” jelas Syafiq, lulusan IKJ yang menyempatkan diri untuk hadir di kuliah umum tersebut.

 

Dwi Atika Nurjanah