Kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) warga Aceh pada masa Darurat Militer (1998-2003) telah menggoreskan trauma bagi seluruh warga Aceh, tak terkecuali J. Hendry Noerman. Pembuat film Identitas ini menceritakan kembali trauma yang ia alami terkait dengan pengalaman kepemilikan KTP tersebut melalui animasi sederhana.

Pada masa itu, seluruh warga Aceh diwajibkan untuk mengganti KTP yang berbeda dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia, yang diberi nama KTP Merah Putih (KTP MP). Ukuran KTP MP enam kali lebih besar dari KTP biasa, sekitar seperempat kertas A4 berwarna merah putih seperti warna bendera Indonesia dan mencantumkan lima sila Pancasila. Di sebelah data profil pemilik KTP, ada tanda tangan Camat, Koramil, dan Kapolsek. Tujuan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh mengeluarkan KTP MP untuk membedakan antara masyarakat sipil dengan pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebelum Aceh damai.

KTP MP pun saat itu bagi rakyat Aceh menjadi “nyawa kedua.” Setiap hari selalu ada razia oleh aparat keamanan, baik di jalan raya, terlebih pada daerah perbatasan Aceh-Sumatera Utara atau datang ke rumah penduduk. KTP MP akan membuat warga Aceh bebas melangkah jika ada razia. Warga Aceh pun harus selalu membawa KTP MP kemana pun mereka pergi, karena jika KTP MP tertinggal di rumah, mereka akan selalu berurusan dengan pihak militer yang tidak jarang berakhir dengan kekerasan fisik, karena aparat militer langsung beranggapan mereka adalah pemberontak. Namun,  KTP MP bisa menjadi malapetaka jika suatu waktu berhadapan dengan kelompok yang berseberangan dengan pemerintah atau aparat militer.

Hingga kini, trauma masih membekas dalam diri Noerman. Melalui film berdurasi delapan menit ini, Noerman menggambarkan trauma yang ia alami. Mulai dari melihat langsung perkelahian antara pasukan militer dengan segerombolan orang yang diduga pasukan GAM di depan bus yang ia tumpangi. Saat ada patroli kendaraan yang lazim dilakukan di jalan-jalan, Noerman dan barang-barang bawaannya diperiksa dan digeledah. Noerman juga sempat dicurigai, diinterogasi, dan ditahan oleh aparat militer selama sepuluh menit, lantaran ia berambut gondrong. Meskipun pada akhirnya ia dilepaskan. Noerman dan seluruh warga Aceh juga diwajibkan untuk ronda malam setiap hari. Jika tidak melakukan aktivitas tersebut, aparat keamanan tidak segan untuk melakukan kekerasan fisik kepada warga.

Film ini mengajak para penonton untuk turut simpati dalam merasakan trauma dan tekanan psikologis yang pernah dialami warga Aceh. Membuktikan kepada penonton bahwa trauma tidak bisa langsung menghilang sepenuhnya, meskipun peristiwanya sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Film ini juga ingin menyadarkan masyarakat luas dan mengkritik pemerintah bahwa penyelesaian konflik lewat militer tidak akan menyelesaikan konflik itu sendiri, justru akan menimbulkan pelanggaran-pelanggaran Hak Asasi Manusia.

 

Nizmi Nasution