Film I Came and Stand at Every Door menceritakan kisah etnis Rohingya, melalui Mohammed Yousuf, korban dari pembersihan etnis di Myanmar. Ia telah melintasi jalan panjang dan lautan dari Myanmar melewati Bangladesh, Malaysia, hingga Indonesia menuju Australia untuk melarikan diri dari genosida yang telah berlangsung di Myanmar selama 40 tahun terakhir.

Etnis Rohingya tinggal di Myanmar Barat negara bagian Rakhine utara, Myanmar. Rohingya sendiri adalah warga pribumi Arakan, mereka sering disebut muslim Arakan atau India Arakan. Tetapi etnis ini ditolak Myanmar karena dianggap sebagai sekelompok orang asing dan kaum minoritas, sehingga menjadikan mereka salah satu kelompok etnis yang tidak memiliki negara. Negara Myanmar sendiri memiliki mayoritas penduduk beragama Buddha.

Kerusuhan antarkelompok agama itu semakin memburuk, sejak pemerintah mendeklarasikan status darurat atas Rakhine sehingga melegalkan intervensi militer Tatmadaw (angkatan bersenjata Myanmar) dalam menangani kerusuhan itu. Parahnya militer, polisi, dan Buddhist yang berasal dari kelompok mayoritas di Myanmar malah melakukan kekerasan terhadap etnis Rohingya. Pergi meninggalkan desa adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup walaupun harus melalui rintangan yang berat.

Melalui sudut pandang etnis Rohingya, penonton diajak untuk tahu bahwa tidak adanya Hak Asasi Manusia (HAM) bagi mereka. Penghapusan etnis selain Burmese terjadi secara besar-besaran di negara yang kacau akibat masalah geopolitik, diplomasi, kematian, dan eksistensi.

Mohammad Yousuf hanya satu dari sekian banyak korban dari ketidakadilan yang terjadi. Representasi dari pengungsi Rohingya yang tinggal di luar negeri atau lebih tepatnya kabur dari penindasan. Berharap dapat mencapai Neverland bernama hari esok yang ia percaya tidak akan pernah mati.

Film dokumenter karya Imran Firdaus ini memberikan sebuah pengalaman baru bagi penontonnya untuk lebih peka atas ketidakadilan kaum minoritas yang terjadi saat ini. Tak hanya sekedar menggambarkan kejadian-kejadian itu lewat audio-visual, tetapi juga memberitahukan bahwa etnis Rohingya seperti Mohammad Yousuf hanya ingin balik ke rumah, tempat tinggalnya, berkumpul dengan keluarganya.

 

Dwi Atika Nurjanah