Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) tahun ini kembali mengundang komunitas-komunitas film untuk hadir di acara Forum Komunitas (Forkom), sebuah ajang perkenalan dan presentasi antar komunitas film. Acara yang berlangsung pada Rabu, 28 November 2018 di Jogja National Museum ini dihadiri oleh puluhan anggota komunitas pecinta film dari seluruh Indonesia.

Acara yang dipandu oleh Aulia Risti dimulai dengan presentasi dari Nova Tentunata, Direktur Komersial dari Red and White China Future Development Co., Ltd.

Nova bercerita mengenai keunggulan industri perfilman China sehingga dapat menjadi salah satu jawara perfilman di Asia. Red and White China saat ini tengah mengusahakan bagi film-film dari negeri tirai bambu agar dapat diproduksi di Indonesia. Ia juga aktif mempromosikan pariwisata Indonesia kepada sejumlah sineas di China dengan harapan dapat menjadikan keindahan panorama alam dan keunikan budaya Indonesia sebagai salah satu destinasi produksi film internasional. Hal tersebut sejalan dengan program sepuluh destinasi pariwisata nasional yang dirintis Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

Sesi kedua menjadi sesi perkenalan dan sharing antar komunitas film di Indonesia. Pada sesi ini terdapat dua pembicara yang memperkenalkan komunitasnya, pertama adalah Ahsannurrahman dengan komunitas filmnya Harian Si Anang, dan Nada Bonang dengan komunitasnya, Klub Nonton.

Ahsanurrahman banyak bercerita mengenai kesulitan dan hambatan yang ia temui dalam memproduksi film di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kendala terbesar yang ia hadapi adalah keterbatasan alat yang mumpuni untuk memproduksi film. Namun, ditengah keterbatasan peralatan yang ada, komunitas yang memiliki visi “memasyarakatkan film, memfilmkan masyarakat” ini telah berhasil memproduksi dua film pendek, “Surat Sakit Untuk Yang Tidak Sakit” (2016), dan “Kuku” (2018) yang bekerjasama dengan Teropong Film. Ahsanurrahman juga bercerita mengenai kondisi dunia perfilman di Banjarmasin, dimana hanya terdapat satu wahana pemutaran film, dan kurangnya ruang-ruang pemutaran film alternatif yang menyajikan film-film sidestream.

Lain cerita dengan apa yang dialami Nada Bonang dan rekan-rekan komunitas Klub Nonton di Bandar Lampung. Komunitas film yang telah berdiri sejak Januari 2012 ini telah berhasil mengadakan beberapa program pemutaran di kotanya, salah satunya program Focus on Kamila Andini yang diadakan pada 25 Februari 2018, dan mendapatkan reaksi positif dari masyarakat Bandar Lampung. Komunitas Klub Nonton juga telah berhasil mengadakan workshop dan screening film bertajuk “Lampung Bergerak”, workshop yang diselenggarakan selama tiga hari ini, mengundang Ismail Basbeth sebagai pemateri dalam workshop tersebut.

Komunitas Klub Nonton kini sedang berupaya untuk mengadakan program Parade Sinema, sebuah program yang direncakan akan menjadi program tahunan Klub Nonton, berisikan penayangan film-film karya sineas Lampung dan nasional. Sebagai komunitas eksebisi film, Klub Nonton memiliki misi untuk mendekatkan film “bagus” kepada kalangan masyarakat yang selama ini hanya bisa menikmati film di media mainstream seperti TV dan bioskop.

Program Forkom ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara JAFF dengan Badan Ekonomi Kreatif. Program ini memiliki tujuan, selain untuk mempererat hubungan antar komunitas film se-Indonesia, juga diharapkan agar sepulangnya dari Forum Komunitas, para peserta dapat menginisiasi pembentukan Komite Film Daerah di daerahnya masing-masing. Komite Film Daerah ini nantinya akan berada di bawah asuhan Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan menjadi sarana penghubung bagi para filmmaker internasional maupun nasional yang ingin memproduksi filmnya di daerah tersebut, hal ini lagi-lagi sejalan dengan program BEKRAF yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan produksi film internasional.

 

Dira Patria