Salah satu kota di Filipina menjadi latar yang diambil oleh Carlo Francisco Manatad dalam filmnya yang berjudul Baga’t Diri Tuhay Pamahungpahung atau The Imminent Immanent. Dalam durasinya sekitar 14 menit, film ini menceritakan tentang rutinitas warga di salah satu kota di Filipina yang berjalan seperti biasa namun harus mengalami perubahan karena terjadi suatu bencana.

Melalui film ini, Carlo kembali menghadirkan gambaran kota kelahirannya yang sebelumnya mengalami bencana Topan Haiyan atau yang dikenal Topan Super Yolanda pada tahun 2013 di Filipina. Pasca lima tahun berlalu, bencana itu masih terngiang di benak masyarakat Filipina bahkan di negara-negara Asia Tenggara, karena merupakan bencana topan terkuat yang menelan banyak korban.

Layaknya bencana yang terjadi secara tiba-tiba, filmmaker seolah menggambarkan hal tersebut dalam karyanya. Ritme film yang berjalan lambat seakan membuat penonton mengikuti arus keseharian warga kota tanpa mengetahui apa yang terjadi setelahnya. Tentang dua insan yang sedang berbincang satu sama lain, seorang penjahit yang mengerjakan orderan dari pelanggannya, dan beberapa kehidupan yang sedikit ‘melenceng’ ditampilkan begitu saja. Tidak ada yang menyadari dan memahami kapan musibah akan datang. Seolah tuntutan duniawi menjadi prioritas utama yang harus dilakukan.

Meski tidak digambarkan secara gamblang mengenai apa yang diceritakan dalam film ini, Carlo justru memilih untuk menceritakannya secara tersirat. Sudut pandang yang diambil juga tidak secara utuh dimiliki satu tokoh sehingga kita dapat merasakan dampak yang sama bagi seluruh tokoh dalam film ini. Dalam durasi sekitar 14 menit yang dapat terbilang singkat untuk memaknai apa yang terjadi sesungguhnya, seolah menyetujui perasaan bertanya-tanya yang dialami warga kota ketika musibah terjadi.

– Justika Imaniar Hijri –