Yogyakarta. Program Open Air Cinema alias layar tancap yang menayangkan “Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta” di Gamplong Studio Alam, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman di hari Sabtu (24/11), dipadati lebih dari 3,000 orang warga.

Selain “Sultan Agung” dari sutradara Hanung Bramantyo, film “Gumbregan” karya Najam Yardo yang hadir di awal proram juga ikut menghibur sejumlah warga yang secara sukarela membawa alas duduk sendiri atau bahkan berselonjor di atas rumput karena keterbatasan fasilitas. Langit malam yang cerah mendukung warga untuk terus memadati lokasi pemutaran.

Antusiasme menonton yang sangat tinggi tersebut adalah pertanda baik bagi panitia Jogja- Netpac Asian Film Festival, atau lebih sering disebut JAFF, selaku penyelenggara. JAFF akan memulai festival film tahunannya di tanggal 27 November hingga 4 Desember. Beberapa tahun terakhir, JAFF secara rutin melaksanakan Open Air Cinema sebelum festival dimulai demi menyebarkan semangat menonton film bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Tahun ini, JAFF telah mengadakan festival film tersebut untuk yang ke-13 kali. Ada ratusan karya terbaru dari para pembuat film terbaik dari berbagai negara di Asia yang sudah siap hadir untuk menghibur dan menginspirasi penonton JAFF yang selalu haus akan terobosan baru di dunia sinema.

Sebelum pemutaran di Studio Gamplong, JAFF juga telah melakukan pemutaran film layar tancap di Desa Sabunan, Bantul dan Desa Sutodirjan, Yogyakarta. Warga yang belum berkesempatan menghadiri serunya layar tancap masih bisa menghadiri program Open Air Cinema JAFF yang akan terus diadakan selama festival film berlangsung pekan depan di Jogja National Museum, Empire XXI dan Cinemaxx.

Mahar Subangun selaku penanggung jawab program Open Air Cinema dari JAFF mengatakan bahwa membludaknya penonton di hari terakhir ini menandakan bahwa sinema Indonesia jelas masih mendapat tempat di hati para penontonnya. Menurut Mahar, Open Air Cinema sengaja dijadikan program rutin sebelumfestival film dimulai karena acara ini sesuai dengan semangat yang dikobarkan oleh JAFF, yakni membuka akses hiburan bagi warga yang sering kesulitan mendatangi bioskop terdekat.

Bagi Mahar selaku panitia JAFF, kehadiran warga dari dalam dan bahkan luar Studio Gamplong yang rela jauh-jauh datang demi bisa menikmati tontonan rakyat ini cukup menjadi tolok ukur kesuksesan aktivitas tersebut.

“Mari kita budayakan menonton, dan mari kita kembalikan budaya layar tancepan sebagai hiburan masyarakat seluruh kalangan,” ujar Mahar.

Bagas Luhur, produser pelaksana “Sultan Agung,” mengatakan bahwa pemutaran film ini terasa spesial karena Studio Gamplong adalah lokasi pengambilan gambar untuk film biografi pendiri kerajaan Mataram tersebut.

“Film ‘Sultan Agung’takkan pernah ada tanpa dukungan warga Gamplong yang sudah mengizinkan kami untuk melakukan syuting hingga bisa diputar disini,” ucap Bagas saat memberikan kata sambutan sebelum pemutaran.

Film “Sultan Agung” berkisah tentang seorang pangeran bernama Raden Mas Rangsang, yang kemudian diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma, dan bertanggung jawab menyatukan adipati-adipati di bawah panji-panji kerajaaan Mataram setelah tercerai berai oleh politik penjajah Belanda. Sementara itu, film “Gumbregan” bercerita tentang seorang bocah pecinta hewan yang mencoba membebaskan hewan-hewan di desanya.

Kualitas cerita yang ditayangkan sangat menghibur warga hingga kebanyakan dari mereka bisa bertahan hingga larut dan tidak beranjak pulang sampai acara layar tancap selesai di pukul 23.00. Maraknya jajanan kuliner dari sejumlah pedagang lokal di sekitar tempat layar tancap, juga menambah kebetahan warga. Mereka bisa dengan santai mencicipi hidangan khas angkringan, siomay, bakso, kacang rebus, jagung rebus dan minuman segar, sambil menonton film.

Wakil Bupati Sleman Dra. Hj. Sri Muslimatun, M.Kes. mengatakan program Open Air Cinema ini memberikan pengalaman yang luar biasa dan tidak terbeli.

“JAFF telah memberikan wahana silaturahmi antar warga melalui Open Air Cinema agar lebih dekat lagi walau tak mengenal satu sama lain,” ucap Sri seusai menghadiri acara di Sabtu malam tersebut.

Sri berharap bahwa Studio Gamplong dapat terpilih kembali menjadi lokasi pemutaran Open Air Cinema tahun depan.