Semarak acara tahunan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) akhirnya kembali terasa dengan digelarnya acara pembukaan yang dilaksanakan di Jogja National Museum pada Selasa (27/11) malam.

Meski diwarnai rintik hujan, antusiasme tamu undangan tidak surut. Sekitar 600 orang pengunjung dan juga puluhan rekan media terus berdatangan untuk memadati Pendopo Adjiyasa yang menjadi pusat acara pembukaan di museum tersebut. Pendopo bahkan tidak cukup menampung padatnya , sehingga banyak pengunjung yang duduk di pinggir pendopo. Namun suasana tetap semarak karena dikelilingi hidangan tradisional seperti bakmi jowo dan wedang ronde.

Acara dibuka pada pukul 19.30 dengan pertunjukkan tari tarian Hanoman Ramadayapati, atau tari Hanoman Putih, yang dipersembahkan oleh tiga siswa dari SMKN 1 Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Budi Irwanto selaku JAFF President hadir di depan panggung untuk memberikan kata sambutan.

“Dipilihnya tema ‘Disruption’ tahun ini sebagai tantangan untuk mengambil jalan baru dalam mencari perspektif yang segar dan terbuka tentang budaya dan masyarakat Asia,” jelas Budi Sanggupri selaku Kepala Bidang Apresiasi Tenaga Perfilman dan Pengarsipan Pusbang menuturkan bahwa JAFF adalah salah satu aspek penting untuk menumbuhkan literasi film di Indonesia dan Asia. Sanggupri juga menambahkan bahwa ia mendukung sepenuhnya penyelenggaraan JAFF dalam bentuk kegiatan pelatihan, untuk meningkatkan kemampuan generasi dalam perfilman.

Festival film yang akan berlangsung selama seminggu itu kemudian resmi dibuka secara simbolis dengan pemecahan kendi oleh Budi, Ifa Isfansyah selaku Festival Director, Ajish Dibyo selaku Executive Director,  Ismail Basbeth selaku Program Director dan Lija Anggraheni selaku Director Manager.

“Umi O Kakeru” (“The Man From The Sea”) garapan sutradara asal Jepang, Koji Fukada, menjadi film pembuka JAFF yang tahun ini menampilkan 146 film dari 27 negara di Asia Pasifik.

Salah satu hal yang membuat acara pembukaan makin meriah adalah hadirnya beberapa tokoh dunia perfilman Indonesia yang cukup terkenal. Salah satunya adalah aktor Morgan Oey yang bermain dalam film “Love is A Bird” garapan sutradara Richard Oh yang akan diluncurkan pertama kali di JAFF.

Ini adalah kali pertama Morgan menghadiri JAFF, namun aktor berusia 28 tahun tersebut mengaku sudah bisa merasakan perbedaan JAFF dari festival film lain yang pernah ia datangi di Indonesia. Hal ini dikarenakan sineas yang hadir di JAFF bisa bertemu dan berbaur dengan pengunjung tanpa rasa segan.

“Di saat festival lain pada umumnya terasa mewah dan prestisius, JAFF hadir dengan kesan yang sangat bersahabat dan dekat secara personal,” jelas Morgan.

Hal lain yang membuat JAFF semakin berkesan bagi Morgan adalah karena tahun ini pula ia dinobatkan sebagai duta program khusus berjudul Art For Children. Sesi ini ditujukan untuk penonton usia mulai satu tahun hingga dewasa. Menjadi seseorang yang didapuk untuk  memperkenalkan film kepada anak-anak menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi Morgan.

Acara pembukaan JAFF di Jogja National Museum tidak hanya berpusat di Pondok Ajiyasa. Ketika memasuki gedung museum, pengunjung dapat segera menikmati pameran yang merupakan bagian dari program Focus on Garin Nugroho yang bertempat di lantai dasar. Pameran tersebut menyajikan sejumlah poster film, kostum dan properti dari film-film yang dibuat Garin setelah 33 tahun berkarya sebagai sineas.