Bertempat di Perpustakaan Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (5/12), Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12 kembali menyelenggarakan Public Lecture dalam dua sesi. Pada sesi pertama, program ini menghadirkan Reza Rahadian (aktor), Maggie Lee (kritikus film), dan Maxine Williamson (kritikus film) dilanjutkan dengan presentasi penelitian film oleh dua presenter. Pada sesi kedua, penonton kembali disegarkan dengan topik berbeda dan pembicara berbeda. David Hanan (pengajar film), Lisabona Rahman (kritikus film), dan Budi Irawanto (pegiat perfilman) hadir dan membagikan perspektif tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan khususnya terkait politik yang tertuang dalam film.

Sesi pertama berlangsung santai namun sarat akan poin-poin penting, khususnya mengenai perspektif ketiga pembicara mengenai perfilman Asia. Kemudian dilanjutkan oleh presentasi salah satunya oleh Anita (Universitas Multimedia Nusantara, Indonesia) tentang penelitiannya dan rencana UMN membuka sebuah platform kuliah film secara daring. “Buat saya, perspektif mereka tentang sinema Indonesia menarik, ya. Mereka punya perspektif, bagaimana orang asing melihat itu dan bagaimana orang kita melihat itu. Seperti Indonesia itu kan diverse (beragam) dan itulah kekuatan film kita sebenarnya, cuma tidak didukung oleh ausiens. Filmnya bagus-bagus, sangat diapresiasi di luar, tapi di negeri sendiri enggak, itu kan ironi,” tutur Anita, Selasa (5/12).

Tingginya atensi penonton pada sesi pertama ternyata berlanjut hingga akhir sesi. Pada sesi kedua, pembahasan seru tentang buku karangan Budi Irawanto bertajuk Military Cinematic Complex ternyata menjadi salah satu topik ‘lawas’ yang ternyata masih sangat relevan di masa ini. Polemik yang terjadi antara filmmaker, kepentingan politik perang, dan hal-hal yang telah terjadi bahkan sejak zaman gerilya dahulu dituangkan dalam satu buku tersebut. Tak hanya dari Budi sebagai penulis, Lisabona juga menyampaikan berbagai komentar dan perspektifnya terhadap buku ini. Salah satu penulis dan pengajar film di Monash University, David Hanan, juga membawa perspektif segar dalam sesi ini. Bukunya yang bertajuk Cultural Specificity in Indonesian Film ternyata membahas risetnya sejak bertahun-tahun lalu tentang kekayaan ragam kebudayaan Indonesia yang sangat minim tertuang dalam film tanah air. Pembahasan dalam buku tersebut mendalam dan komplit, mulai dari tokoh-tokoh film yang ia teliti, karyanya, hingga perspektif dari masing-masing kebudayaan Indonesia. Ya, muncul satu fakta menarik dalam diskusi ini. Bahwa perfilman Indonesia sebagian besar hanya mengeksplorasi dan mengelaborasi budaya dominan saja, tidak menyeluruh.

David memaparkan bahwa ia mengeksplorasi bagaimana para pembuat film memasukkan unsur kebudayaan yang sangat beragam di Indonesia dengan caranya sendiri-sendiri. Ia menelusuri hal ini dari mulai sutradara Indonesia yang menurutnya sangat profesional dan bagus, contohnya Jayakusuma. “Dia mengeksplorasi aspek-aspek adat sebanyak mungkin, dan dia masukkan itu ke dalam filmnya. Misal dia membuat film tentang Minangkabau, dia pakai segala bahasa yang ada di Minangkabau, bukan hanya silat dan tarian, tapi juga bahasa adatnya. Tapi kalau membuat film yang lokasinya desa Betawi, dia juga pakai humor Betawi. Oleh karena itu dia tidak hanya mendeliver cerita, tapi mau ada sesuatu yang integral ke dalam filmnya,” paparnya bersemangat, Selasa (5/12).

Kesan positif juga datang dari penonton, salah satunya Elok dari Yogyakarta, “Seru sih, jadi ada wacana kebudayaan dominan dan regional, dan tidak seluruhnya tidak terepresentasi dalam film Indonesia. Saya juga tertarik tentang bagaimana riset-riset itu dibangun dalam sebuah film,” ungkapnya. JAFF ingin terus mengembangkan sinema Asia, termasuk Indonesia, dari segi perspektif, termasuk dari ilmu tentang perfilman itu sendiri. Termasuk tentang banyaknya film tanah air tahun ini, menuai kesan positif dari para penonton, hingga pelaku bidang perfilman di berbagai sektor, termasuk David Hanan selaku pembicara. “Banyak film Indonesia yang maju, seperti kita baru saja tonton The Seen and Unseen, kemudian Marlina The Murderer in Four Acts, itu adalah film hebat. Ada banyak film yang ‘cerdas’ dan saya belum nonton semuanya yang saya ingin tonton. JAFF sendiri semakin besar, karena saat ini dialah festival film yang sangat kuat di sini. Apalagi, dikombinasikan dengan film-film baru yang disertai diskusi. Saya pun harus mengatakan bahwa banyak sesi diskusi yang menarik dan to the point,” pungkasnya.

Angela Shinta Dara Puspita