Hari Senin (4/12/2017), kegiatan Forum Komunitas kembali berjalan dengan lancar. Banyak pengunjung yang mengantre untuk mengikuti kegiatan di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta tersebut. Sekitar satu jam sebelum acara dimulai saja, ada yang sudah duduk-duduk bersandar di sekitar ruang seminar, menunggu dengan sabar. Screening Layar Komunitas yang kedua memutar empat buah film. Semua film tersebut khusus berasal dari berbagai komunitas, untuk komunitas, oleh komunitas. Ada Ji Dullah karya Alif Septian Raksono, Jendela oleh Randi Pratama, Harta Karung karya Miftachul Rahman, dan Anak Lanang oleh Wahyu Agung Prasetyo. Keempat film tersebut berhasil membuat para penonton beranjak dari tempat duduknya, semua mata tampak fokus menikmati sajian film yang tersedia pada hari itu.

Semua film mengangkat realitas sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kemasannya ada yang bersifat fiksi hingga dokumenter pendek. Ji Dullah menceritakan seorang yang baru pulang haji, ditawari tetangganya untuk menjadi kepala desa. Merasa tertarik dengan gaji dan status sosial yang akan didapat, Dullah rela menghabiskan uangnya untuk menjadi kepala desa. Bahasa Madura dipakai sebagai bahasa utama hampir di seluruh adegan. Tawa penonton berkumandang selama pemutaran Ji Dullah. Berikutnya, film Jendela tampak berbeda dengan pemilihan layar frame-nya dari keempat  yang lain. Bercerita tentang Bimo yang baru diizinkan pulang dari sebuah operasi bersama bapaknya  dengan menumpang kereta api. Hubungan mereka berdua ini sungguh janggal; istilah bapak dan anak sepertinya hanya status tertulis. Kenyataannya mereka saling menjaga jarak dan canggung satu sama lain. Perlahan tapi pasti tabir permasalahan utama hubungan bapak dan anak itu terbuka. Film ini berhasil mengaduk emosi, tampak ada yang meneteskan air mata setelah film itu berakhir.

Harta Karung adalah dokumenter pendek mengenai isu pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Rencana pembangunan tersebut menuai pro-kontra di tengah masyarakat Jatirejo, terutama warga pemulung yang kesehariannya mengais sampah di TPA Putri Cempo, Jatirejo, Surakarta. Lalu Anak Lanang berisi kepolosan percakapan empat orang anak Sekolah Dasar yang membahas kehidupan sehari-hari mereka di atas becak.  Setelah pemutaran film berakhir, dilanjukan sesi tanya jawab antara sutradara dan perwakilan film dengan penontonnya. Suasana yang cair diselingi dengan pertanyaan menarik dan jawaban memuaskan membuat forum komunitas hari itu semakin seru dan hangat.

Salah satu perwakilan Rel Air Sinema dari Padang, Rudi Nugraha mendapatkan banyak pembelajaran dari film-film yang sudah ditayangkan, “Film-film yang diputarkan pada layar Komunitas dua itu sangat memberikan wawasan baru, gambaran baru untuk komunitas yang ada di Padang, kesempatan yang tidak bisa dilewatkan,” jelasnya yang juga memberikan kritik membangun terhadap JAFF tentang arus informasi tempat pemutaran film untuk lebih diperjelas supaya tidak membingungkan. Kemudian menceritakan kekaguman betapa ramainya penyelenggaraan JAFF tahun ini daripada tahun lalu.

Salma dari Smophyc Production, Sukabumi juga berbagi pengalaman dengan JAFF setelah mengikuti kegiatan Forum Komunitas pada hari itu. “Saya senang banget, karena mendapat banyak kenalan baru dari komunitas lain, ada dari Sumbawa, ada dari Malang, Pasuruan, banyak yang bisa saya kenal, berbagi ilmu bareng, pengalaman bareng,” ungkapnya. Salma sangat menyukai film Jendela karena menurutnya film itu sangat filosofis dan memuji JAFF sebagai sebuah festival yang sangat keren. Berbagai pengalaman yang diungkapkan para peserta Forum Komunitas merupakan gambaran warna Fluidity dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-12, tidak hanya bermakna bagi penyelenggaraan JAFF namun juga untuk majunya komunitas-komunitas film di seluruh nusantara.

Titus Kurdho