Film Satu Hari Nanti mampu menyedot penikmat sinema di Yogyakarta untuk menyerbu loket penjualan tiket pada Minggu (3/12). Antrian penonton di XXI Empire mengular panjang hingga membuat panitia penyelenggara Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kewalahan. Film besutan Salman Aristo tidak diputar sendirian hari itu, melainkan didahului oleh pemutaran Mesin Tanah karya Wimar Herdanto.

Demi dapat memperoleh tiket dan menonton akting idola, para penonton rela berdesak-desakan dalam antrean sampai berjam-jam. Salah satu penonton yang rela mengantri lama ialah Putri. Ia mengaku telah mengantre dari pukul setengah lima dan baru mendapat tiket pada pukul setengah tujuh malam, yang artinya ia telah mengantre selama kurang lebih dua jam. “Satu Hari Nanti itu film yang udah lama kutunggu dan bikin aku excited banget untuk berangkat ke JAFF lagi,” ungkap Putri.

Salah seorang aktor Satu Hari Nanti, Ringgo Agus Rahman yang diwawancarai seusai pemutaran dan diskusi film menuturkan pemutaran itu sangat tepat. Pendapat Ringgo didasarkan pada kebijakan untuk membatasi usia penonton di atas dua puluh satu tahun karena memuat banyak konten dewasa. “Saya rasa pemutaran film di sini paling tepat, karena penonton-penontonnya memiliki pemikiran yang terbuka dan bisa menerima,” ucap pemeran Din itu.

Ringgo bahkan mengaku iri dengan penyelenggaraan JAFF yang memiliki banyak penonton setia. Ia berusaha membandingkan antara antusiasme penonton JAFF dengan yang terjadi di kota tempat tinggalnya, Bandung, yang menurutnya tidak memiliki antusiasme sebesar dalam penyelenggaraan JAFF. “Saya iri [dengan JAFF], lho. Saya berasal dari Bandung dan saya pengen di Bandung ada yang seperti ini juga. Bukan hanya besar, tapi juga memiliki antusiasme yang besar [terhadap perfilman],” kata Ringgo.

Satu Hari Nanti mengisahkan kehidupan mahasiswa Indonesia yang mengambil studi di negara Swiss. Latar tempat Swiss yang begitu indah menjadi magnet tersendiri bagi film itu, selain konflik antartokoh yang disajikan.

Achmad FH Fajar