Sastrawan melegenda tanah air, Leon Agusta, bangkit kembali dalam puisi-puisi serta cerita hidupnya yang diangkat dalam film dokumenter bertajuk Semua Sudah Dimaafkan sebab Kita Pernah Bahagia. Almarhum yang juga disebut sebagai ‘Penyair Biru’ ini tampaknya memiliki beragam cerita kehidupan yang sebelumnya belum diketahui khalayak. Ya, putranya, Paul Agusta bersama dengan sutradara Katia Engel menggarap film dokumentasi dirinya yang berdurasi 90 menit tersebut. Film ini lolos kurasi dan diputar perdana di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Ke-12 dalam program Asian Docs, tepat setelah diputarnya film Oh Brother Octopus, garapan sutradara Florian Kunert.

Film dokumenter yang sedikit bernuansa noir ini merangkum cerita kehidupan sang maestro selama 77 tahun berkarya. Idealisme, gagasannya tentang Revolusi Mental, hingga kisah akhir kejayaannya di mana ia menderita demensia sarat tergambar dalam film dokumenter ini. Melalui penuturan para istrinya, Margaret Agusta dan Lisa, serta perjalanan yang dilalui Paul Agusta menyusuri jejak hidupnya, tampaknya benar jika Leon Agusta disebut sebagai salah satu sastrawan berpengaruh di Indonesia, bersama rekan-rekannya, Chairil Anwar, Putu Wijaya, dan yang lainnya.

Karya terbaru Paul ini diakuinya baru saja selesai dua minggu yang lalu. Ia benar-benar sepenuh hati menggarapnya, dengan tujuan lebih mengenalkan sosok Leon Agusta melalui puisi-puisinya, serta apa yang coba disampaikan almarhum sang ayah melalui puisi tersebut. Tawaran penggarapan film dari Katia yang dulunya sempat ditolak oleh Paul karena alasan ketidaksiapan emosional ini, akhirnya diterima atas permintaan keluarga besar Agusta. Hasilnya, kisah hidup seorang maestro yang tergambar apik dari segi angle, pemilihan musik, serta keruntutan ceritanya yang membawa penonton hanyut bersama puisi-puisi sang Penyair Biru. Bahkan Paul sempat menemukan berbagai fakta yang sebelumnya tak ia ketahui setelah menggarap film ini, salah satunya tentang proses kematian sang kakek yang cukup tragis.

Mengenai premiernya dalam Asian Docs JAFF yang bertempat di CGV Cinemas J-Walk Mall, diakui Paul karena kepercayaannya terhadap festival ini selama bertahun-tahun. “Karena saya punya relationship panjang dengan JAFF, dari 12 tahunnya JAFF saya baru satu tahun absen. Jadi sudah sebelas tahun di sini, haha. Film-film saya udah sering banget diputar di JAFF. Saya percaya bahwa penonton-penontonnya adalah mereka yang cinta seni, cinta kebudayaan. Saya juga percaya bahwa para kurator dan programmer dan orang-orang yang mengadakan JAFF itu mereka yang tulus dan kecintaannya terhadap film serta kebudayaan. Ini adalah salah satu festival favorit saya dari dulu, selama masih bisa JAFF duluan, ya JAFF duluan,” pungkasnya, Sabtu (2/12).

Angela Shinta Dara Puspita