Masyarakat tradisional, juga masyarakat Timur, yakin ada kehidupan setelah kematian. Selayaknya kehidupan di dunia, kematian menyajikan perjalanan panjang penuh misteri. Tak seorang pun di dunia ini mampu menerka seberapa jauh perjalanan itu, atau seberapa dalam kita mesti terperosok, sebelum mengalaminya sendiri.

Keyakinan orang Timur akan kehidupan setelah kematian diangkat oleh Sunil Pandey dalam The Eternal Journey. Pandey meletakkan kunci penceritaan kepada narator yang mendeskripsikan perjalanan nenenda. Kecintaan narator kepada neneknya luruh dalam narasi pengembaraan neneknya mencapai tujuan akhir. Nenek ialah sosok yang begitu dekat dengan narator, bahkan layaknya seorang ibu yang mengasuhnya sejak masih bayi. Tak ayal, jika narator pada mulanya enggan untuk melepas kepergiaan neneknya.

Namun perjalanan mesti dilakukan, serupa titah, kewajiban, atau keharusan yang telah tertulis. Dalam perjalanan, titimangsa tak lagi dikenal. Yang dikandung ialah tujuan: sebuah pondok persemayaman umat manusia. Tak ada awal; tak ada akhir. Yang dikenal, keabadianlah. Tak ada ekspresi rasa, senang, duka, takut, atau sesal. Yang terpaham ialah tujuan. Tak ada muasal maupun akhir. Yang dituju ialah pusat.

Simbol-simbol berserakan. Di situ, sungai membentang di hadapan. Sampan membawa nenek ke seberang. Di situ, tanah gersang selapang-lapangnya. Nenek berjalan, tak menengok ke belakang lagi.

Tak ada upacara yang wajib dilaksanakan, karena perjalananlah yang utama. Selamat tinggal, kehidupan. Selamat jalan, nenek. Inilah makna perjalanan. Inilah.

Kehidupan, kematian, perjalanan begitu pendek, sependek film ini.

Achmad FH Fajar