Sanatorium Losheng dibangun pada tahun 1929 selama masa penjajahan Jepang untuk para penderita kusta dari Taiwan. Pada 1990-an pemerintah Taiwan memutuskan untuk merenovasi situs tersebut dan memindahkan para “narapidana” ke tempat lain. Sejak saat itu sanatorium yang dianggap begitu lama oleh pasien sebagai penjara yang tidak manusiawi itu telah terbengkalai. Bagaimana sebuah tempat yang seharusnya untuk penyembuhan ternyata merupakan pesakitan jangka panjang pasien-pasien yang ada di dalamnya? Apakah kesembuhan yang mereka cari ternyata tidak ada sama sekali? Film ini merupakan sebuah karya dari Chen Chieh-Jen, tokoh penting dalam dunia seni konseptual Taiwan. Seorang seniman yang berani menantang batas ekspresi dengan pertunjukan gerilya, pameran bawah tanah dan intervensi-intervensinya di ruang publik. Membahas permasalahan sosial dan politik melalui perpaduan film dan foto secara ambisius.

Realm of Reverberations dibagi dalam empat bagian besar, menyajikan perspektif individu melalui kehidupannya sangat dipengaruhi oleh Sanatorium Losheng. Mereka adalah para penghuninya yang telah menginjak tua. Seorang wanita muda cukup lama menemani penghuni sanatorium itu, ia adalah perawat rumah sakit yang tinggal di Cina selama masa Revolusi Kebudayaan, dan tahanan politik fiksi yang melakukan perjalanan melalui sejarah Taiwan sejak masa penjajahan Jepang sampai sekarang. Kombinasi seimbang antara arsip-arsip lama, keindahan dalam suramnya fotografi monokrom, dan sebuah kacamata dokumenter mengenai peristiwa terselubung, nyata menghipnotis penontonnya. Alur penceritaan berjalan lamban seakan menggambarkan kehidupan para penghuni di sana, merasa hampa dalam penjara yang seharusnya tidak mereka dapatkan.

Suara sapu bersentuhan dengan lantai terdengar kesepian di antara kosongnya sebuah ruangan penuh debu. Kondisi seperti inilah yang ditampilkan pada sebagian besar cerita film ini.

Beragam pendapat muncul dari penonton Realm of Reverberations, “Staging filmnya luar biasa menurut gua, tapi agak bikin pusing juga, batasan eksperimentalnya nggak ada, sepertinya pertama kali sih nonton film seperti ini,” jelas Ius, dari Bahas Sinema Bandung.

Bagja yang juga berasal dari Bandung menambahkan, “Titik akhir film ini bagus sekali, karena menjelaskan sumber permasalahannya penyakit Hansen’s disease itu dari scene awal yang melelahkan.”

“Film ini menurut saya berhasil menangkap realitas yang ada di Taiwan mengenai orang-orang yang mengalami dampak dari suatu permasalahan sosial yang kompleks,” ucap Roni dari UNY yang membandingkan situasi dalam film, relevan seperti di di Indonesia.

Mempertanyakan Realm of Reverberations yang mengupas habis sebuah “penjara” yang mengukung mereka yang tidak bersalah menjadi salah satu pencapaian Chen Chieh-Jen melalui film ini. Melihat keadaan Taiwan secara khusus dan korban-korban yang diikuti oleh hantu bernama masa lalu, warisan hidup yang sulit dilupakan. Seperti telah diucapkan pada salah satu bagian terakhir,  sebenarnya tidak ada yang namanya kebenaran yang berhasil? Itu hanyalah kehancuran yang terus berulang dan proses membangun kembali tanpa akhir.

Titus Kurdho