Tokyo, Kyoto, Osaka adalah nama-nama yang paling sering orang kenal apabila membahas mengenai kota yang mereka ingat di Jepang. Yamato hanyalah sebuah kota yang tidak semua orang di dunia ketahui, bahkan sebagian masyarakat Jepang pun tidak tahu. Seolah nama itu telah dihilangkan atau mungkin tidak ada di dalam peta, ternyata Yamato memiliki sebuah kehidupan yang menarik untuk diangkat menjadi sebuah film. Tempat pembuangan sampah kota merupakan awal adegan, membuat kesan pertama terhadap kondisi latar film itu jadi kota yang membosankan. Atsugi Air Base, sebuah pangkalan angkatan udara Amerika Serikat yang sangat besar memiliki wilayah tersendiri di kota Yamato. Sedemikian besar dan kuatnya pengaruh pangkalan udara itu bagi Yamato, bahkan pangkalan itu memiliki alamat tersendiri, di California, bukan di Yamato. Fakta ini semakin diperjelas oleh Daisuke Miyazaki, sutradara film Yamato (California) saat diwawancarai JAFF setelah pemutaran filmnya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

“Iya itu memang benar, bukan mengada-ada, itu adalah kampung halaman saya. Semua orang tidak akan bisa masuk ke pangkalan itu tanpa paspor, yang harus diperiksa ulang di California sana.”

Sakura, seorang wanita muda Yamato yang bercita-cita menjadi seorang rapper yang tampak sulit mengontrol emosi apabila ada orang-orang yang mengejek kehidupannya sebagai rapper amatiran tersebut. Kehidupannya tampak kacau (atau dialah yang membuat kekacauan itu sendiri) bersama ibunya, Kiko, dan adiknya, Kenzo. Kamar Sakura dan Kenzo hanya dipisahkan sebuah tirai. Kondisi rumahnya terutama dapurnya tampak kecil dan sedikit berantakan, kamar mandinya juga tidak mewah. Gambaran kehidupan sebuah keluarga dengan keadaan ekonomi menengah di Yamato, Jepang ditampakkan dengan kuat.

Hari-hari dilalui Sakura dengan penuh kebosanan, kemudian semua itu perlahan berubah dengan kehadiran Rei. Ibu tunggal Sakura, , berkencan dengan seorang pria Amerika bernama Abby Goldman, yang putrinya, Rei, sedang berkunjung dari Amerika. Karena Kiko harus bekerja, dia meminta Sakura dan Kenzo untuk merawat Rei dengan baik. Karakter Rei yang ramah, ceria, dan mudah tersenyum sangat berseberangan dengan Sakura. Pada awalnya Sakura tidak tertarik dengan Rei tetapi lambat laun, Rei mencoba terus mengakrabkan diri dengan Sakura.

Interaksi inilah yang menjadi unsur menarik dalam film ini. Diiringi dengan kekuatan suara dan musik yang begitu kental, bisingnya pesawat dari pangkalan udara yang memecah kehidupan Yamato yang monoton, hingga lantunan lagu hip hop yang mengiringi langkah Sakura menata hidupnya. Perkenalan budaya satu sama lain dari Sakura dan Rei berlangsung secara alami. Rei sempat tidak mau diajak ke kuil oleh Sakura (mengingat turis suka dengan wisata kuil apabila pergi ke Jepang), Rei memilih mengikuti kebiasaan normal Sakura ke Don Quixote, sebuah toko yang dibilang terbesar di Yamato. Sakura juga diperkenalkan dengan musik Lil B oleh Rei. Bersamaan dengan itu Sakura ditawari temannya untuk mengikuti lomba menyanyi aliran bebas melihat kondisi Sakura yang kesulitan keuangan.

Perangai Sakura yang ingin bebas sempat menyulitkannya untuk mengikuti aru hidup di kotanya. Ini menjadi tamparan keras bagi Jepang dan para turis yang ingin menikmati keindahan Jepang sebab kenyataannya, yang terjadi di Jepang tidak seperti yang dibayangkan. Konflik yang terjadi antara Sakura dan Rei menjadi cermin bagi proses tercampurnya kedua budaya yang dipaksakan untuk bersatu. Di permukaan mungkin tampak aman, namun kemudian pasti ada kesalahpahaman yang terjadi. Yamato (California) memberikan pesan yang tersembunyi dan halus namun juga jujur dan kasar untuk memahami kembali jati diri budaya sendiri, hingga mungkin mencintainya lagi.

Titus Kurdho