Perhelatan Hanung Bramantyo dalam dunia sinema Indonesia, akhirnya membawanya menemukan ‘napas’ baru dalam film garapan terbarunya bertajuk The Gift. Dalam pemutarannya di CGV Cinemas J-walk Mall, Sabtu (2/12) kemarin, Hanung turut hadir beserta salah satu aktor dalam The Gift, Reza Rahadian. Film terbaru Hanung ini tayang perdana di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12 dan masuk dalam program JAFF Indonesian Screen Awards. Kepercayaannya pada festival ini untuk premiere The Gift, diakui karena adanya sejarah panjang antara dirinya dengan JAFF, “Karena JAFF itu rumah saya, JAFF itu sekolah saya, JAFF itu tempat workshop saya. Kemudian bukan sekali dua kali juga saya ada di sini,” tuturnya, Sabtu (2/12).

Dalam sesi diskusi setelah pemutarannya, The Gift mengundang riuh tepuk tangan penonton dan ungkapan kekaguman dari beberapa sutradara kawakan Indonesia yang hadir, salah satunya Ismail Basbeth. “Saat saya menonton film mu ini, saya merasa ada spirit yang baru dari film Hanung Bramantyo,” ujar Basbeth, Sabtu (2/12). Lebih detailnya, Hanung bertutur soal dua style yang ia angkat dalam film ini. “Saya membuat dua style, dua eksplorasi, yaitu static camera dan hand out camera. Static camera saya taruh di rumah Harun (Reza Rahadian) yang sangat mengunci, membatasi ruang. Kedua, di rumah Arie (Dion Wiyoko), menunjukkan orang yang terkungkung. Di luar, saya nggak peduli dengan komposisi, saya juga tidak peduli dengan penonton nyaman atau tidak. Toh, dunia juga tidak selalu nyaman to,” ungkapnya seraya berkelakar yang diiringi gelak tawa penonton, pada Sabtu (2/12).

Hanung pun berceritera tentang idealismenya untuk membuat film yang ‘bebas’ dan tidak terpatok pada komersialisasi. Melalui proses panjang dan menghasilkan 23 film sebelumnya, akhirnya lahir film Hanung yang benar-benar mengusung kebebasannya dalam pengambilan gambar, penulisan cerita, bahkan menyisipkan unsur surealis dalam film yang digarapnya sejak 2016 ini. Namun, ia pun turut menegaskan bahwa tak berarti 23 film sebelumnya hanya menjadi hal yang kurang penting. “Bukan berarti 23 film itu menjadi tidak penting atau hanya jadi anak tangga yang saya lewati begitu saja, tapi film-film itu yang menuntun saya hingga akhirnya sampai pada pilihan ini (The Gift, pen.). Jadi saya sudah mengerti dari mulai film script sampai ditarik ke pengadilan. Dari bioskop, kemudian film diturunkan, sampai kemudian ke pengadilan, itu sudah saya alami. Itu saya sudah tahu, dan dari 23 film itu saya jadi paham sekali tentang negeri ini. Saya jadi paham sekali negeri ini, hanya dari perspektif film saja. Entah kawan-kawan yang lain,” paparnya, Sabtu (2/12).

Penggarapan The Gift juga dirasakannya seperti mengawali kembali kariernya membuat film, itulah sebabnya Yogyakarta dipilihnya menjadi setting utama. Dari mulai kultur, hingga perasaan jujur yang Hanung dapatkan ketika menggarap film di ‘rumah’-nya tersebut. Tak hanya sutradara, aktornya pun turut mengeksplorasi hal baru dalam film ini, salah satunya adalah Reza Rahadian sebagai Harun, seorang pemuda yang kehilangan penglihatan. “Saya berkesempatan bertemu dengan tunanetra lainnya dan saya mengambil gimmick sedikit. Bagaimana menggunakan tongkatnya, kemudian melihat mereka mengantisipasi ruang-ruang baru. Kemudian mengamati sorotan mata, gerak kepala, dan karena kuping menjadi sangat sensitif bagi orang yang tidak bisa melihat, maka indra itu menjadi sangat penting, apalagi sentuhan. Hal-hal itu bagi saya, eksplorasinya memakan waktu tiga hari,” pungkasnya seraya tersenyum saat ditanya tentang totalitasnya menjadi sosok Harun, Sabtu (2/12).

 

Angela Shinta Dara Puspita