Pembukaan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Ke-12 yang diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (1/12), menarik hati sutradara muda Wregas Bhanuteja. Ketika ditemui selepas perhelatan, Wregas menuturkan bahwa ia kagum dengan pembukaan JAFF tahun ini. “Saya sangat kagum dengan opening malam ini, terutama untuk tarian yang dibawakan oleh Mbak Sekar Sari dan juga film (Nyai, pen.) dari mas Garin yang luar biasa,” ungkap pria kelahiran 20 Oktober 1992 ini.

Dalam pelaksanaan JAFF Ke-12, Wregas juga bertindak sebagai salah satu juri di Program Light of Asia dan menjadi pembicara dalam Program Public Lecture (kuliah umum). Ia mengaku langsung menerima tawaran untuk ikut serta dalam festival tahun ini karena JAFF merupakan festival film yang berharga bagi perjalanan hidupnya. “Saya punya sejarah panjang dengan festival ini; saya berkembang tumbuh bersama festival ini. Jadi, saya pasti langsung bersedia ketika ditawari untuk menjadi juri, apalagi juri film pendek di mana saya berkembang dari film pendek juga,” jelas sutradara film Prenjak.

JAFF memang sudah tak asing bagi sutradara yang pernah memenangkan penghargaan untuk kategori film pendek terbaik dari Festival Film Cannes itu. Ia mengikuti penyelenggaraan JAFF untuk pertama kalinya pada edisi ke-3 (2008) ketika masih duduk di bangku kelas I Sekolah Menengah Atas (SMA) De Britto, Yogyakarta. Dari situlah ia mengakui semakin jatuh cinta kepada JAFF.
Wregas optimistis bahwa JAFF akan selalu diminati oleh masyarakat. Keyakinannya itu tidak hanya didasarkan pada antusiasme warga pada acara pembukaan, melainkan juga berpegang pada angka penjualan tiket. “Saya yakin festival akan berjalan lancar, juga antusiasme warga Jogja tidak pernah habis untuk JAFF. Saya dengar tiket online juga sudah tersikat habis, apalagi besok untuk on the spot pasti akan lebih ramai,” kata Wregas.

Di antara reriuhan suara tamu undangan di TBY, Wregas berharap JAFF selalu berkembang untuk memajukan dunia perfilman. “JAFF,” tuturnya, “harus selalu ada untuk menghidupkan Sinema Jogja, Sinema Asia Tenggara, dan Sinema Asia itu sendiri.”
Tidak hanya itu, Wregas juga memuji kepanitiaan JAFF. Menurutnya, kepanitiaan JAFF semakin berkembang dari tahun ke tahun. Meski demikian, Wregas berpesan supaya panitia JAFF menjaga kesehatan pribadi dan tetap mempererat kekeluargaan. “Ke depan, tetap harus jaga kesehatan karena kalian pasti akan sangat capek. Yang penting jaga kesehatan dan jangan ada permusuhan karena hal-hal sepele,” pesan Wregas.

Achmad FH Fajar