Hari yang ditunggu-tunggu itu pun telah tiba. Jumat malam, tepatnya pada tanggal 1 Desember 2017, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang ke-12 “Fluidity” telah dibuka. Cuaca tampak sangat mendukung Opening Ceremony kali ini, bahkan ratusan pengunjung sudah memadati Taman Budaya Yogyakarta dua jam sebelum acara dimulai. Animo yang luar biasa ini pun mendukung terselenggaranya pembukaan JAFF 2017 dengan meriah.

Opening Ceremony dimulai dengan sambutan dari Budi Irawanto, Direktur Festival, yang mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terselenggaranya Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-12 dan tidak lupa memperkenalkan tema JAFF tahun ini kepada publik “Mengutip perkataan samurai Miyamoto Musashi, ‘Kelenturan adalah jalan menuju kehidupan’, melalui JAFF, semoga sinema Asia senantiasa meniti arus perubahan yang diolahnya menjadi karya kreatif dan artistik tanpa kehilangan sensibilitas pada kultur masyarakatnya,” ungkap Budi Irawanto.

Kemudian juga ada sambutan dari Endang Wahyu sebagai perwakilan Deputi Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Tsukamoto Norihisa sebagai direktur dari Japan Foundation, dan Choi Yoon sebagai direktur dari Busan Film Comission. Setelah itu ada pemberian penghargaan spesial untuk mendiang Kim Ji-Seok atas komitmennya terhadap Busan International Film Festival yang terus berkembang hingga saat ini; penerima penghargaan diwakilkan oleh Choi Yoon dari Busan Film Comission.

Garin Nugroho, Presiden Festival JAFF, memperkenalkan Nyai, karya film terbarunya yang juga merupakan film pembuka JAFF 2017, beserta para pemerannya kepada segenap penonton yang hadir. Sebuah film yang merupakan ungkapan terima kasihnya kepada Kota Yogyakarta dan segenap seni budaya yang ada di dalamnya. Pada malam pembukaan ini juga, Garin Nugroho, memutuskan untuk pensiun dari JAFF setelah selama 12 tahun berjuang untuk membuat Jogja-NETPAC Asian Film Festival hingga seperti saat ini.
“Hari ini adalah hari yang spesial, saya juga bahagia, saya memutuskan untuk pensiun sebagai Presiden dari JAFF. Saya sudah melihat para filmmaker muda, organisasi muda, dan para penonton generasi muda datang dan selalu mendukung-NETPAC Asian Film Festival untuk menjadi jauh lebih baik lagi.”

Sebuah akhir yang manis dari semua dedikasi dan kerja keras yang telah Garin Nugroho berikan terhadap Yogyakarta, Indonesia, dan Asia melalui-NETPAC Asian Film Festival. Gong pertanda pembukaan JAFF ke-12 telah dibunyikan.
Sebelum film Nyai diputar, sebuah pertunjukan kolaborasi seni, dengan syair Macapat Maskumambang menarik ratusan mata yang hadir, baik yang ada di dalam gedung Societet maupun yang berada di luar melalui layar yang disediakan. Paksi Raras Alit (musisi), Sekar Sari (penari), Raphael Donny (motion director), Dhanank Pambayun (digital illustrator), Yennu Ariendra (penatausik), dan Banjar Triandaru (penata cahaya) berkolaborasi melalui musik dan tari yang dipadukan dengan video mapping yang memukau dan menggambarkan bahwa seni itu cair seperti tema JAFF tahun ini, Fluidity.

Layar mulai gelap dan film Nyai pun diputar. Semua penonton menikmati sajian film yang memang pantas menjadi film pembuka. Inti dari JAFF 2017 pun tergambarkan dengan selaras. Film telah menjadi cair, bisa berpadu dengan beragam aspek seni, tanpa batasan, namun tetap pada esensinya. Jumlah pengunjung yang hadir, baik penonton dan semua tamu undangan, mencapai seribu orang. Pemutaran film Nyai menjadi penutup dari Opening Ceremony malam itu, sekaligus menandai bahwa perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang ke-12 telah resmi dimulai.

Titus Kurdho