“Manusia lahir dan kemudian mati. Bergantian secara instan. Laiknya pikiran, selalu berganti sebelum kita menyadarinya. Kita telah berreinkarnasi tanpa henti. Seperti film yang berputar cepat, meski nampak tak bergerak.”

Rit, seorang operator proyektor, telah bekerja selama 25 tahun di Thonburi Rama sebelum akhirnya bioskop tradisional itu ditutup pada tahun 2013. Thonburi Rama tak mampu bersaing dengan bioskop-bioskop baru yang telah beralih ke teknologi digital.

Meski mulanya tidak terlalu menikmati pekerjaannya, perlahan Rit mulai terbiasa dengan hidupnya yang seluruhnya ia habiskan di bioskop. Bekerja di siang hari dan beristirahat di malam hari, semuanya berlangsung di gedung bioskop. Tak ada teman bicara, pun tak ada kawan untuk berbagi. “Hidupku sungguh tidak berkualitas. Kehidupan rumah tanggaku pun demikian,” ujar Rit yang hanya bertemu istri dan putri semata wayangnya dua puluh hari dalam setahun. Apa boleh buat, Rit tidak memiliki keahlian lain yang dapat diandalkan selain mengoperasikan proyektor.

Penutupan Thonburi Rama tidak hanya sukses menjadikan Rit seorang pengangguran, namun juga merenggut ‘jiwanya’. Rit kemudian menjalani hari-harinya dengan botol-botol alkohol di gedung Thonburi Rama yang tak lagi beroperasi. Rit kehilangan harapan hidupnya. Harapan yang tidak bisa ia dapatkan lagi meskipun Rit kembali hidup bersama keluarganya, terlebih anak satu-satunya yang ia miliki tidak terlalu menyambut kepulangannya. Rit mulai sering menceracau dan tak lagi mampu membedakan dimensi nyata dan khayal.

Phantom of Illumination merupakan film dokumenter karya seorang sutradara muda Thailand, Wattanapume Laisuwanchai. Film berdurasi 69 menit—film dokumenter panjang pertama Wattanapume—ini telah memenangkan Special Mention Next: Wave Award dari CPH: Dox 2017. Phantom of Illumination akan hadir di Jogja Asia-NETPAC Film Festival pada Senin, 4 Desember 2017, pukul 13.00 di Societet Taman Budaya Yogyakarta.

Erni Maria Angreini