Birma, atau biasa dikenal di telinga khalayak sebagai Myanmar, saat ini mengagungkan puisi dalam mengiringi setiap langkah kehidupan mereka. Seni tidak akan pernah lepas karena sudah menjadi leburan budaya yang sudah melekat kuat di jiwa rakyatnya. Petr Lom, sutradara kelahiran Ceko, dan produser Belanda, Corinne van Egeraat mencoba menelaah beragam bentuk puisi tersebut dalam sebuah buku cerita. Bukan hanya seperti buku cerita biasa, tidak begitu banyak narasi yang ditampilkan, melainkan merupakan potongan-potongan puisi dalam sebuah lukisan visual yang menarik para penikmatnya untuk ikut menyelam di dalamnya, di dalam hiruk-pikuk kehidupan Burma.

Maung Aung Pwint, nama yang cukup asing bagi mereka yang tidak berasal dari Birma. Namun di sebuah negara yang pernah mengalami masa kelam kediktatoran ini, ia cukup terkenal, cukup punya nama sebagai seorang pembangkang. Aksinya sebagai jurnalis, aktivis kemanusiaan, pembuat dokumenter, dan tentu saja seorang penyair membuatnya dipenjara bertahun-tahun oleh pemerintah. Masa lalunya sangat penuh perjuangan; biasanya orang yang sudah bekerja keras seperti ini kelak akan memetik hasilnya di masa depan. Nyatanya, ia terkena Parkinson pada masa tuanya, perlahan dilupakan oleh generasi muda, hingga selama hampir 20 tahun menunggu anaknya yang beremigrasi ke Finlandia untuk pulang sekadar menjenguk.

Kisah Maung Aung Pwint hanyalah fragmen kecil yang ada dalam Burma Storybook. Perjalanan sejarah secara sekilas ditampilkan di dalam film tanpa menggurui. Penonton akan sedikit dipaksa memberikan opini hingga pertanyaan pada setiap scene. Namun itulah kekuatan film ini, sebuah gambaran tentang realita yang terjadi. Beberapa orang akan menangkap bias yang agak kabur, tetapi bagi sebagian orang lainnya film ini akan memberikan jalan yang sedikit terang. Apalagi sebagian besar negara di Asia Tenggara punya pengalaman sejarah yang mirip, misalnya terkait cengkeraman pemerintah. Hubungan istimewa ini akan menguat, akan menambah ikatan emosi dalam setiap menit Burma Storybook diputar.

Lantunan puisi mengiringi keindahan sebuah negara yang telah mengalami lima dekade kediktatoran militer dan baru terlepas pada 2011 yang lalu. Keindahan itu tidak hanya ditampilkan pada pemandangan alamnya saja, melainkan juga setiap lekuk jalan kota yang bisa dinikmati. Balapan liar yang mengancam nyawa, kampenye Aung San Suu Kyi, tawa riang anak-anak, demonstrasi di berbagai sudut kota, orang dewasa menari di antara semprotan air tanpa malu, hingga euforia festival lampionnya yang luar biasa membuai mata. Para penyair dari beragam latar belakang, dari yang tua hingga muda, membawakan puisinya dengan topik sindiran, pengalaman, alam, hingga kilas balik sejarah mengenai negara yang masih memiliki luka, sempat tertimbun dalam tanah, berusaha bangkit, namun tetap berbahagia.

Titus Kurdho