Bayangan masa lalu yang suram mendatangi Kupal justru ketika ia terpaksa terasingkan dari sosialnya. Kepala Kupal dihantam berbagai wujud halusinasi: penyesalan, imaji kelaparan, kesendirian.

Ahmad Kupal ialah seorang histolog, ahli jaringan tubuh. Ia terobsesi dan mencintai perburuan hewan liar. Dengan kekayaan yang berlimpah ruah, ia tak kesulitan untuk memenuhi hobinya. Namun, dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat, Kupal cenderung asosial, atau malah antisosial. Ia tak peduli dengan istri dan anaknya, begitu pula dengan orang-orang terdekat. Yang ia pedulikan hanyalah anjing peliharaannya, bernama Haiku, dan berburu.

Film berjudul Kupal merupakan karya sutradara Iran Kazem Mollaie yang mengangkat keterasingan individu dari lingkungan sosialnya. Secara cerdas, Mollaie memotret kehidupan orang, pelaku, individu-individu yang cenderung menarik diri dalam kesendirian dan kesenangan-kesenangannya. Mungkin angkuh, atau mungkin sekadar cuek, tapi seperti itulah penggambaran Mollaie terhadap protagonis filmnya, Kupal.

Kisah dalam film ini semakin kompleks ketika Mollaie menghadirkan hari pembalasan atas sikap Kupal yang asosial itu. Metode kisah pembalasan itu dihadirkan oleh Mollaie dalam bentuk pengurungan. Di sinilah, individu yang terbiasa menarik diri itu justru dihadapkan pada keadaan terpaksa terasingkan, terputus dari dunia luar, dan kesepian karena suatu musibah. Hari-hari pengasingan, atau terpaksa terpenjara, yang harus dijalani Kupal demikian tragis. Tak tanggung-tanggung, Kupal harus merasakan kesakitan dan penderitaan yang belum pernah ia temui selama masa kejayaannya. Kupal dan Haiku, dalam sekejap, berubah menjadi orang termiskin di dunia yang merasakan pahitnya pengalaman hidup dengan berbagai macam bentuk.

Gambaran tragis tidak berhenti di situ saja. Mollaie, kemudian, menampilkan kehidupan sebagai guru terbaik bagi manusia. Sketsa-sketsa suram berupa imajinasi dari masa silam menyerbu tokoh utama bak ribuan mimpi dalam sekali terlelap. Kehidupan, bagi Mollaie, kadang mengajari manusia melalui penyesalan-penyesalan, penderitaan, perjalanan panjang tanpa akhir. Racikan Mollaie tak dapat dipungkiri memang khas orang “Timur”. Mollaie memadukan kisah perjalanan spiritual tujuh lelaki dan anjingnya dalam Surah Al-Kahfi dengan corak individualisme manusia modern. Namun ini bisa juga salah, bahwa Mollaie lebih suka menampar keangkuhan manusia modern dengan menghadirkan kisah keterasingan manusia terhadap sifat sosialnya.

Achmad FH Fajar